Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kita Tak Bisa Menghindar Lagi, Suhu Bumi Naik Minimal 2,3 Derajat Celsius

Kompas.com, 5 November 2025, 10:29 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Dunia telah gagal mencapai target utama perubahan iklim untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius sesuai Kesepakatan Paris pada 2015.

Kemungkinan besar, ambang batas ini akan terlampaui dalam dekade mendatang, menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) pada Selasa (4/11/2025).

Dalam laporan tahunannya, Emissions Gap Report, UNEP menyebut bahwa kegagalan itu terjadi karena dunia bergerak lambat mengatasi iklim.

“Situasi ini akan sulit dibalikkan, dibutuhkan penurunan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih cepat dan besar untuk meminimalkan kelebihan batas itu,” demikian pernyataan UNEP.

Skenario Terbaik 2,3 Derajat Celsius

Penulis utama laporan, Anne Olhoff, mengatakan pemangkasan emisi besar-besaran saat ini mungkin bisa menunda terjadinya pelampauan suhu tersebut, “tetapi kita tidak lagi bisa sepenuhnya menghindarinya.”

Perjanjian Paris 2015 menargetkan agar kenaikan suhu rata-rata global dibatasi maksimal 2 derajat C dibanding masa praindustri, dengan upaya keras menahannya di 1,5 derajat C.

Namun menurut UNEP, janji terbaru negara-negara untuk mengurangi emisi, jika benar-benar dijalankan, tetap akan membuat dunia memanas hingga 2,3–2,5 derajat C.

Angka itu memang sekitar 0,3 derajat C lebih rendah dibanding proyeksi PBB tahun lalu, tetapi menunjukkan bahwa rencana pengurangan emisi baru yang diumumkan, termasuk oleh penghasil emisi CO? terbesar dunia yaitu Tiongkok, belum cukup menutup kesenjangan target.

Baca juga: PBB: Emisi Dunia Hanya Turun 10 Persen, Gagal Capai Target 60 Persen

Tiongkok pada September berjanji akan menurunkan emisinya sebesar 7–10 persen dari puncaknya pada tahun 2035. Namun para analis mencatat negara itu biasanya memasang target yang rendah dan kemudian melampauinya.

Tekanan Jelang COP 30

Temuan ini menambah tekanan menjelang KTT Iklim PBB COP30 bulan ini, di mana negara-negara akan membahas cara mempercepat dan mendanai aksi nyata untuk menekan pemanasan global.

Target suhu dalam Perjanjian Paris didasarkan pada kajian ilmiah yang menunjukkan setiap kenaikan kecil suhu global memperburuk gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Misalnya, pemanasan 2 derajat C akan membuat jumlah penduduk yang terpapar panas ekstrem lebih dari dua kali lipat dibanding pemanasan 1,5 derajat C. Pemanasan 1,5 derajat C diperkirakan akan memusnahkan setidaknya 70 persen terumbu karang, sedangkan pada 2 derajat C, hampir 99 persen akan hilang.

UNEP juga memperingatkan, kebijakan iklim yang sudah berlaku saat ini bahkan bisa menyebabkan pemanasan mencapai sekitar 2,8 derajat C.

Meski ada sedikit kemajuan, satu dekade lalu dunia diperkirakan menuju kenaikan suhu 4 derajat C, emisi karbon dioksida yang memerangkap panas masih terus meningkat karena banyak negara tetap mengandalkan batu bara, minyak, dan gas untuk menggerakkan ekonominya.

Pada 2024, emisi gas rumah kaca global naik 2,3 persen menjadi 57,7 gigaton setara CO?, kata UNEP.

Baca juga: Studi Ungkap Emisi Penerbangan Nyata Bisa Tiga Kali Lipat Lebih Tinggi dari Kalkulator Karbon

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau