JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan perpaduan fenomena atmosfer skala global, regional, dan lokal secara bersamaan masih memengaruhi cuaca di Indonesia hingga 27 November 2025.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan pada skala global, Dipole Mode Index (DMI) sebesar minus 0,99, berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan hujan di pesisir barat Sumatera.
Selain itu, kondisi La-Nina lemah, yang ditandai dengan indeks El Nino 3,4 relatif sebesar minus 0,95 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar positif 15,9, akan meningkatkan potensi hujan di wilayah Indonesia bagian timur.
Baca juga: BRIN Jelaskan Bagaimana Bakar Sampah Bisa Datangkan Hujan Mikroplastik
"Penguatan monsun asia yang ditandai dengan nilai West Pacific Monsoon Variability Index yang signifikan serta dominasi komponen angin zonal baratan di wilayah Indonesia, makin meningkatkan pasokan uap air dari Samudra Hindia dan memicu pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah," ujar Andri dalam keterangannya, Kamis (20/11/2025).
Sementara itu, Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi berada pada fase enam, yang secara spasial fenomena ini diperkirakan aktif di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan bagian utara. Kombinasi antara MJO, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator pada wilayah dan periode yang sama diprediksi akan terjadi di Samudra Hindia barat Aceh, Aceh, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku bagian selatan.
Kondisi itu berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan.
Di sisi lain, Siklon Tropis Fina diperkirakan berada di Laut Arafura selatan Pulau Tanimbar dengan intensitas yang meningkat lalu bergerak ke selatan-barat daya.
"Seiring dengan pergerakan Siklon Tropis Fina yang menjauhi wilayah Indonesia dan menarik massa udara di sekitarnya, intensitas hujan akan mengalami penurunan khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur," tutur Andri
Dia membeberkan, pada 21-27 November 2025 cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan ringan.
Wilayah yang harus waspada hujan sedang antara lain Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, dan Jawa Tengah.
Baca juga: Jayapura Tetapkan Perda Perlindungan Danau Sentani, Komitmen Jaga Alam Papua
Lalu DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, serta Papua.
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," ucap dia.
BMKG pun mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, genangan, dan longsor.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diharapkan menjaga kebersihan lingkungan, dan menjaga infrastruktur, khususnya drainase agar tahan dari cuaca ekstrem, serta memantau secara berkala informasi cuaca resmi dari BMKG sebelum beraktivitas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya