Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kronologi Badak Jawa Musofa Mati saat Translokasi di TN Ujung Kulon

Kompas.com, 29 November 2025, 07:58 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan kematian badak jawa Musofa dimulai pada 3 November 2025 saat hewan ditranslokasi.

Badak ini dipindahkan ke Javan Rhino Study and Conservation Area Taman Nasional Ujung Kulon untuk memperbanyak populasinya.

Selanjutnya, Musofa dimasukan ke kandang angkut menggunakan kapal KAPA K-61 Marinir TNI AL dan tiba dengan selamat pada 5 November 2025. Mulanya, Musofa menunjukan perilaku normal, tim dokter juga dapat melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang diperlukan.

"Namun demikian memang kami juga terkejut karena pada tanggal 7 November 2025 Musofa terbaring lemah, dan pada pukul 13.00 WIB tim dokter sudah melakukan upaya-upaya tindakan penelamatan agar musofa bisa tetap hidup," ungkap Satyawan dalam konferensi pers, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2025).

Baca juga: Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan

"Tetapi pada jam 16.00 WIB badak Musofa dinyatakan tidak dapat diselamatkan atau mengalami kematian," imbuh dia.

Musofa merupakan individu pertama yang dipindahkan secara hidup sebagai bagian dari upaya memperkuat populasi badak jawa yang kian rentan akibat inbreeding dan menurunnya keragaman genetik. Di luar negeri, populasinya terakhir ditemukan di Vietnam pada 2010.

Kajian Population Feasibility Analysis menunjukkan dengan kondisi genetik saat ini, populasi badak jawa berada dalam situasi mengkhawatirkan 5 hingga 50 tahun mendatang. Kemenhut memutuskan translokasi satwa dilindungi tersebut.

"Sehingga satu-satunya tumpuan harapan untuk kestarian badak jawa ini ada di Indonesia. Selain itu, ada bahaya yang tidak terlihat di luar misalnya ada perburuan, kecukupan habitat, inbreeding dan penurunan keanekaragaman genetik yang cukup tinggi," jelas dia.

Berbeda dengan habitat terbuka di Afrika yang memungkinkan pembiusan jarak jauh, badak yang hidup di hutan lebat ditranslokasi melalui metode pitfall. Satyawan memastikan seluruh proses berlangsung sesuai standar yang direkomendasikan International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Baca juga: Kemenhut Translokasi Badak Jawa untuk Perbanyak Populasi

"Jadi kami tidak membuat sesuatu yang di luar metode standar, dan setelah masuk ke pitfall ditangani dengan segera oleh tim dokter," ucap Satyawan.

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Bambang Pontjo Priosoeryanto, menyampaikan Musofa mengalami perubahan konstruksi gigi yang sangat parah. Berdasarkan hasil nekropsi, ditemukan beberapa luka memar pada kulit hingga kematian jaringan otot.

"Hasil pemeriksaan histopatologi dengan menggunakan mikroskop kami bawa sampelnya ke Bogor, ditemukan parasit yang bersarang pada otot di bawah luka," ucap Bambang

Luka terdapat di pangkal ekor, bagian pupis, skapula atau bahu, kulit, leher, dan beberapa lokasi lainnya dengan luasan yang bervariasi. Adapula kutu yang mengisap darah indukan badak tersebut pada daerah lipatan paha kaki belakang dan depan, serta lipatan kulit leher dan punggung.

Meski tubuhnya terlihat berisi, pemeriksaan jaringan menunjukkan badak itu dalam kondisi sangat kurus. Menurut Bambang, lemak subkutan dan lemak di rongga perut mengalami degradasi berat yang menandakan defisiensi nutrisi dalam waktu panjang. Musofa mengalami penumpukan cairan di rongga perut karena tubuhnya yang kurus.

"Kalau diilustrasikan, maka kita biasa menemukan yang disebut dengan busung lapar. Nah ini sama sebetulnya busung lapar dengan kasus pada badak ini," tutur dia.

Sementara, pemeriksaan saluran cerna menunjukkan parasit dalam jumlah banyak mencakup nematoda pengisap darah di jejunum, cacing pita di duodenum hingga ileum, cacing pipih oval berwarna merah di kolon, serta cacing gelembung seperti kista di mukosa usus.

Berdasarkan kondisi gigi dan jaringan, Musofa diperkirakan berusia lebih dari 45 tahun, kategori sangat tua untuk badak jawa.

"Kematian badak diduga akibat kelemahan umum yang bersifat kronis yang terjadi jauh sebelum penangkapan dan translokasi dilakukan karena prosesnya ini kronis, bukan tiba-tiba," kata dia.

Tim dokter memastikan tidak ada tanda-tanda cedera akibat sedasi atau anestesi saat proses translokasi maupun kerusakan organ akibat stres akut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau