Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026

Kompas.com, 11 Februari 2026, 13:59 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan ringan hingga lebat masih terjadi 16 Februari 2026. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menjelaskan dalam sepekan ke depan dinamika atmosfer dari skala global hingga skala lokal masih mendominasi kondisi cuaca di Indonesia.

"Monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat terhadap kondisi cuaca di Indonesia, paling tidak hingga dasarian kedua Februari," ujar Andri dalam keterangannya, Rabu (11/2/2026).

Periode 10-16 Februari 2026, BMKG memperkirakan wilayah yang perlu waspada hujan dengan intensitas sedang hingga lebat antara lain Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara.

Baca juga: Hujan Ekstrem Makin Meningkat, Jawa Barat Berpotensi Paling Rentan Bencana

Kemudian, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, serta Papua Selatan.

"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," tutur Andri.

Faktor yang Memicu Hujan 

Dalam beberapa hari ke depan, BMKG memantau adanya pergerakan seruakan dingin (cold surge) seiring dengan penguatan monsun Asia. Andri menyebut, angin utara serta indeks cross equatorial northerly surge (CENS) juga terlihat berada pada kategori tinggi.

"Oleh karena itu, potensi cuaca di wilayah Indonesia bagian selatan diprakirakan akan mengalami peningkatan yang signifikan untuk terjadinya hujan dengan intensitas yang cukup tinggi," tutur dia.

Baca juga: Usai Banjir Sumatera, Banyak Warga yang Tinggal di Pengungsian dengan Fasilitas Terbatas

Pada skala global, El Nino–Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan fase La Nina lemah, yang memicu hujan di bagian timur Indonesia. Andri menambahkan, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Lampung, dan Laut Coral.

Sistem ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi di wilayah Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Sumatra Utara, dan Samudra Hindia barat Lampung.

Gelombang kelvin terdeteksi aktif di Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan dan utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua Selatan. Sedangkan gelombang rossby ekuator terpantau aktif di sebagian besar wilayah Sumatera, Jawa, Bali, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, sebagian besar Papua sepekan ke depan.

BMKG lantas mengimbau masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang bisa menyebabkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan banjir rob.

"Kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu ini diharapkan menjadi perhatian dalam perencanaan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta berbagai kegiatan luar ruang seperti ibadah dan wisata," jelas dia.

Sejauh ini, BMKG juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beberapa wilayah untuk mencegah banjir maupun longsor sesuai kebutuhan penanganan cuaca ekstrem.

"Pelaksanaan OMC difokuskan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem di wilayah rawan bencana, mendukung upaya mitigasi dan pengurangan risiko hidrometeorologi, serta embantu percepatan penanganan dampak bencana," ucap Andri.

Baca juga: Cerita Mengungsi dari Banjir Bekasi, Air Tak Surut Meski Hujan Berhenti

BMKG turut berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pemerintah daerah dalam pelaksanaan OMC. Petugas mempertimbangkan kondisi atmosfer, kesiapan sarana prasarana, serta efektivitas operasi di lapangan.

"BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap dinamika atmosfer dan secara berkala menyampaikan prakiraan cuaca, peringatan dini, hingga peringatan cuaca ekstrem kepada masyarakat dan pemangku kepentingan," beber dia.

Jakarta dan Jawa Barat menjadi wilayah yang telah menggelar OMC, untuk mengantisipasi banjir akibat cuaca ekstrem 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau