Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Risiko di Balik Label Microwave-Safe, Ratusan Ribu Mikroplastik Bisa Masuk ke Makanan

Kompas.com, 28 Februari 2026, 10:31 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews

KOMPAS.com - Pernah melihat label microwave-safe (aman dipanaskan di microwave) pada wadah plastik? Simbol tersebut berarti suatu wadah atau makanan stabil untuk dipanaskan di microwave.  

Namun, makalah dari Greenpeace International menganalisis 24 studi ilmiah terbaru tentang risiko kesehatan tersembunyi dari makanan siap saji yang dikemas dalam plastik.

Baca juga:

Ratusan ribu partikel kecil meresap ke dalam makanan bersamaan dengan bahan kimia berbahaya yang dapat berdampak luas terhadap kesehatan.

“Orang-orang berpikir mereka membuat pilihan yang tidak berbahaya ketika membeli dan memanaskan makanan yang dikemas dalam plastik. Pada kenyataannya, kita terpapar campuran mikroplastik dan bahan kimia berbahaya yang seharusnya tidak pernah ada di dalam atau di dekat makanan kita," kata pemimpin kampanye plastik global dari Greenpeace Amerika Serikat, Graham Forbes, dilansir dari Euronews, Jumat (27/2/2026).

Risiko di balik label microwave-safe

Wadah plastik mengandung partikel kecil yang berbahaya

Label microwave-safe ternyata tidak menjamin makanan bebas mikroplastik. Studi menemukan hingga 534.000 partikel plastik bisa larut dalam makanan.SHUTTERSTOCK/ANDREY_POPOV Label microwave-safe ternyata tidak menjamin makanan bebas mikroplastik. Studi menemukan hingga 534.000 partikel plastik bisa larut dalam makanan.

Kontaminasi mikroplastik tidak berhenti di dalam tubuh. Nampan dan plastik pembungkus makanan bisa mencemari lingkungan di sepanjang siklus hidupnya.

Siklusnya dari penambangan bahan bakar fosil, proses produksi di industri manufaktur yang membutuhkan banyak energi, hingga pada akhirnya ke pembuangan.

Ketika tiba waktunya untuk membuang plastik sekali pakai ini, materialnya yang berlapis-lapis membuatnya sulit didaur ulang.

Saat terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik, fragmen-fragmen kecil ini menumpuk di tanah, sungai, serta lautan, membahayakan hewan dan kembali masuk ke sistem pangan manusia.

Bahkan, saat berhasil masuk ke dalam ekonomi sirkular, plastik akan mengalami penurunan kualitas dan bisa melepaskan kembali zat aditif berbahaya ke dalam produk baru.

Produk makanan siap saji yang diberi label "aman untuk microwave" kemungkinan memberikan rasa aman yang palsu kepada konsumen.

Label tersebut umumnya merujuk pada stabilitas struktural wadah. Jadi bukan apakah wadah tersebut melepaskan mikroplastik atau bahan tambahan kimia ke dalam makanan.

Sebuah penelitian menemukan 326.000 hingga 534.000 partikel mikroplastik dan nanoplastik yang larut ke dalam simulasi makanan setelah hanya lima menit pemanasan dengan microwave. Nanoplastik cukup kecil untuk berpotensi masuk ke organ dan aliran darah.

Baca juga:

Label microwave-safe ternyata tidak menjamin makanan bebas mikroplastik. Studi menemukan hingga 534.000 partikel plastik bisa larut dalam makanan.SHUTTERSTOCK/ANDREY_POPOV Label microwave-safe ternyata tidak menjamin makanan bebas mikroplastik. Studi menemukan hingga 534.000 partikel plastik bisa larut dalam makanan.

Plastik mengandung lebih dari 4.200 bahan kimia berbahaya. Mayoritas bahan kimia ini tidak diatur dalam kemasan makanan.

Bahkan, beberapa di antaranya dikaitkan dengan kanker, kemandulan, gangguan hormon, dan penyakit metabolik.

Setidaknya 1.396 bahan kimia plastik yang bersentuhan dengan makanan telah terdeteksi di dalam tubuh manusia.

Saat ini, semakin banyak bukti yang menghubungkan paparan tersebut dengan gangguan perkembangan saraf, penyakit kardiovaskular, obesitas, dan diabetes tipe 2.

Suhu semakin tinggi, waktu pemanasan bertambah lama, wadah yang sudah usang, dan makanan berlemak, menyerap lebih banyak bahan kimia secara signifikan. 

Kondisi itu meningkatkan jumlah partikel plastik dan zat tambahan yang larut ke dalam makanan.

Makalah itu menyatakan bahwa panduan regulasi mengenai mikroplastik yang dilepaskan dari kemasan makanan masih belum memadai secara global. Penolakan dari industri telah berkontribusi pada penundaan regulasi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau