KOMPAS.com - Pernah melihat label microwave-safe (aman dipanaskan di microwave) pada wadah plastik? Simbol tersebut berarti suatu wadah atau makanan stabil untuk dipanaskan di microwave.
Namun, makalah dari Greenpeace International menganalisis 24 studi ilmiah terbaru tentang risiko kesehatan tersembunyi dari makanan siap saji yang dikemas dalam plastik.
Baca juga:
Ratusan ribu partikel kecil meresap ke dalam makanan bersamaan dengan bahan kimia berbahaya yang dapat berdampak luas terhadap kesehatan.
“Orang-orang berpikir mereka membuat pilihan yang tidak berbahaya ketika membeli dan memanaskan makanan yang dikemas dalam plastik. Pada kenyataannya, kita terpapar campuran mikroplastik dan bahan kimia berbahaya yang seharusnya tidak pernah ada di dalam atau di dekat makanan kita," kata pemimpin kampanye plastik global dari Greenpeace Amerika Serikat, Graham Forbes, dilansir dari Euronews, Jumat (27/2/2026).
Label microwave-safe ternyata tidak menjamin makanan bebas mikroplastik. Studi menemukan hingga 534.000 partikel plastik bisa larut dalam makanan.Kontaminasi mikroplastik tidak berhenti di dalam tubuh. Nampan dan plastik pembungkus makanan bisa mencemari lingkungan di sepanjang siklus hidupnya.
Siklusnya dari penambangan bahan bakar fosil, proses produksi di industri manufaktur yang membutuhkan banyak energi, hingga pada akhirnya ke pembuangan.
Ketika tiba waktunya untuk membuang plastik sekali pakai ini, materialnya yang berlapis-lapis membuatnya sulit didaur ulang.
Saat terurai menjadi mikroplastik dan nanoplastik, fragmen-fragmen kecil ini menumpuk di tanah, sungai, serta lautan, membahayakan hewan dan kembali masuk ke sistem pangan manusia.
Bahkan, saat berhasil masuk ke dalam ekonomi sirkular, plastik akan mengalami penurunan kualitas dan bisa melepaskan kembali zat aditif berbahaya ke dalam produk baru.
Produk makanan siap saji yang diberi label "aman untuk microwave" kemungkinan memberikan rasa aman yang palsu kepada konsumen.
Label tersebut umumnya merujuk pada stabilitas struktural wadah. Jadi bukan apakah wadah tersebut melepaskan mikroplastik atau bahan tambahan kimia ke dalam makanan.
Sebuah penelitian menemukan 326.000 hingga 534.000 partikel mikroplastik dan nanoplastik yang larut ke dalam simulasi makanan setelah hanya lima menit pemanasan dengan microwave. Nanoplastik cukup kecil untuk berpotensi masuk ke organ dan aliran darah.
Baca juga:
Label microwave-safe ternyata tidak menjamin makanan bebas mikroplastik. Studi menemukan hingga 534.000 partikel plastik bisa larut dalam makanan.Plastik mengandung lebih dari 4.200 bahan kimia berbahaya. Mayoritas bahan kimia ini tidak diatur dalam kemasan makanan.
Bahkan, beberapa di antaranya dikaitkan dengan kanker, kemandulan, gangguan hormon, dan penyakit metabolik.
Setidaknya 1.396 bahan kimia plastik yang bersentuhan dengan makanan telah terdeteksi di dalam tubuh manusia.
Saat ini, semakin banyak bukti yang menghubungkan paparan tersebut dengan gangguan perkembangan saraf, penyakit kardiovaskular, obesitas, dan diabetes tipe 2.
Suhu semakin tinggi, waktu pemanasan bertambah lama, wadah yang sudah usang, dan makanan berlemak, menyerap lebih banyak bahan kimia secara signifikan.
Kondisi itu meningkatkan jumlah partikel plastik dan zat tambahan yang larut ke dalam makanan.
Makalah itu menyatakan bahwa panduan regulasi mengenai mikroplastik yang dilepaskan dari kemasan makanan masih belum memadai secara global. Penolakan dari industri telah berkontribusi pada penundaan regulasi.
Label microwave-safe ternyata tidak menjamin makanan bebas mikroplastik. Studi menemukan hingga 534.000 partikel plastik bisa larut dalam makanan.Plastik yang bersentuhan dengan makanan diatur berdasarkan "batas migrasi" untuk zat kimia yang diketahui berdasarkan saran dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA).
Namun, saat ini tidak ada ambang batas khusus untuk partikel mikroplastik di Uni Eropa.
EFSA menyadari kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai migrasi mikroplastik dari kemasan makanan sehingga menandai permasalahan ini sebagai perhatian prioritas sejak 2021.
Otoritas tersebut menyoroti kesenjangan pengetahuan untuk industri makanan, termasuk kebutuhan akan metode pengujian terharmonisasi dan data paparan secara komprehensif di seluruh rantai pasokan makanan, serta penilaian yang kuat terhadap risiko kesehatan.
EFSA menggarisbawahi pentingnya memahami bagaimana pengolahan dan pengemasan makanan berkontribusi terhadap pelepasan mikroplastik dan nanoplastik.
Setelah menindaklanjuti tinjauan literatur ilmiah baru-baru ini tentang topik tersebut, EFSA menunjukkan adanya kesenjangan data yang perlu diisi. Salah satunya mempelajari paparan mikroplastik dan nanoplastik dari bahan yang bersentuhan dengan makanan sehingga tingkat migrasi aman dapat ditetapkan.
Saat ini, EFSA sedang melakukan penilaian berkelanjutan terhadap potensi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh mikroplastik dalam makanan, air, dan udara atas permintaan Parlemen Eropa. Hasil penilaian tersebut diharapkan akan tersedia pada akhir tahun 2027.
Baca juga:
Produksi plastik global diperkirakan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2050. Menurut analisis Badan Energi Internasional, saat ini kemasan plastik menyumbang 36 persen dari seluruh plastik.
Berdasarkan penelitian dari perusahaan konsultan global Towards FnB, nilai makanan siap saji dalam kemasan plastik, yang sudah mencapai lebih dari 160 miliar euro atau setara Rp 2.720 triliun.
Angka tersebut diperkirakan akan meningkat menjadi hampir 300 miliar euro atau setara Rp 5.100 triliun pada tahun 2034 seiring konsumen terus mengejar kemudahan.
Menurut riset pasar yang diterbitkan oleh Statista, sebanyak 71 juta ton makanan siap saji diproduksi secara global pada 2024, dengan rata-rata 12,6 kilogram per orang.
Greenpeace meminta plastik yang bersentuhan dengan makanan harus diatur secara lebih ketat dalam Perjanjian Plastik Global PBB mendatang. Tak terkecuali, penghapusan bertahap bahan tambahan berbahaya daripada mengandalkan daur ulang hilir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya