KOMPAS.com - Manajer aset asal Prancis, BNP Paribas Asset Management Alternatives (BNPP AM Alts), memimpin pendanaan Seri A untuk perusahaan restorasi hutan berbasis Inggris, Rainforest Builder, guna mempercepat proyek pemulihan ekosistem di Afrika Barat.
Investasi ini ditujukan untuk mendukung pengembangan proyek restorasi hutan tropis berbasis komunitas sekaligus menghasilkan kredit karbon dari penyerapan emisi.
Rainforest Builder, yang didirikan pada 2022, berfokus pada pemulihan kawasan Hutan Guinea Atas, salah satu wilayah hutan paling terdegradasi di Afrika, dengan sekitar 90 persen tutupan hutan telah hilang.
Baca juga: Food Estate hingga Tambang Bikin Hutan Indonesia Makin Tergerus, Ini Laporan IEO 2026
Hingga kini, perusahaan tersebut telah menjalankan empat proyek dan menanam lebih dari 1,8 juta pohon.
Head of Natural Capital & Impact Investing BNPP AM Alts, Alexandre Martin-Min, menilai Afrika Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan solusi iklim berbasis alam, meski masih menghadapi keterbatasan pendanaan.
“Kami memilih mendukung Rainforest Builder karena pendekatan mereka yang menggabungkan restorasi ekologis dengan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat,” ujar Martin-Min, dikutip dari ESG Today, Selasa (17/3/2026).
Selain investasi ekuitas, BNPP AM Alts juga memberikan pembiayaan untuk Project Colobus, salah satu proyek utama Rainforest Builder di wilayah Oti dan Volta, Ghana bagian timur.
Proyek ini bertujuan memulihkan ekosistem hutan tropis yang terdegradasi melalui penanaman spesies pohon asli, sekaligus membangun rantai pasok dari pengumpulan benih hingga penanaman.
Investasi tersebut dinilai sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya tujuan ke-13 tentang aksi iklim dan tujuan ke-15 terkait perlindungan ekosistem darat.
Co-CEO Rainforest Builder, Ed Stephenson, mengatakan pendanaan tersebut menjadi langkah penting untuk memperluas skala restorasi hutan di Afrika Barat.
Baca juga: Hutan Mangrove Bisa Kekurangan Oksigen akibat Pemanasan Global
“Kami melihat ini sebagai peluang untuk mempercepat pemulihan ekosistem sekaligus menunjukkan nilai hutan tropis sebagai infrastruktur alami,” ujarnya.
Dana yang diperoleh juga akan digunakan untuk meningkatkan produksi kredit karbon berkualitas tinggi serta mengembangkan sistem operasional restorasi berbasis data.
Di sisi lain, berbagai studi menunjukkan kondisi hutan di Afrika semakin mengkhawatirkan. Penelitian terbaru mencatat bahwa hutan di benua tersebut kini justru melepaskan lebih banyak karbon dibandingkan yang diserapnya, akibat deforestasi dan degradasi yang terus terjadi.
Temuan ini menegaskan pentingnya upaya restorasi hutan sebagai bagian dari strategi global dalam menekan emisi gas rumah kaca dan menjaga keanekaragaman hayati.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya