Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Industri Plastik Asia Terguncang

Kompas.com, 4 April 2026, 15:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dampak konflik AS-Israel Vs Iran mulai mengubah peta industri plastik di Asia.

Konflik ini memicu kenaikan harga minyak dan mengganggu rantai produksi kimia dunia. Penutupan Selat Hormuz menghambat pasokan naphtha atau bahan baku utama plastik, sehingga harga plastik baru menjadi hampir semahal plastik daur ulang.

Melansir Eco Business, Jumat (3/4/2026) selisih harga antara plastik baru (virgin) dan plastik daur ulang (PET) kini menyusut menjadi sekitar 200 dolar AS atau Rp3,4 juta per ton, padahal tahun-tahun sebelumnya bisa mencapai lebih dari 400 dolar AS atau Rp 6,8 juta per ton.

Biasanya, plastik baru jauh lebih murah karena diproduksi massal dari minyak bumi. Sementara plastik daur ulang justru lebih mahal karena proses pengumpulan dan pengolahannya sulit.

Baca juga: Polusi Plastik Mulai Cemari Hutan Dunia

Namun karena konflik AS-Israel Vs Iran yang membuat harga minyak dunia melonjak, para pendaur ulang pun melaporkan lonjakan permintaan plastik daur ulang.

Permintaan Plastik Daur Ulang Meningkat

Rob Kaplan, pimpinan Circulate Capital, investor perusahaan daur ulang di Asia Tenggara, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan di bawah naungannya mengalami lonjakan permintaan plastik daur ulang yang luar biasa. Hal ini terjadi karena para pembeli kini berebut untuk mengamankan stok mereka.

“Ini bukan cuma soal harga, tapi soal ada atau tidak barangnya. Karena harga minyak naik dan jalur Selat Hormuz terhambat sehingga bahan baku plastik baru susah didapat, permintaan untuk plastik daur ulang pun melonjak drastis,” terang Kaplan.

Ganesha Ecosphere, sebuah perusahaan daur ulang di India, mengatakan bahwa minggu ini mereka memasok plastik daur ulang dalam jumlah yang sangat besar.

Banyak perusahaan mencarinya sebagai pengganti plastik baru yang stoknya sedang langka. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, bisnis plastik daur ulang sempat terpuruk karena kalah saing dengan harga plastik baru yang murah.

Lonjakan permintaan ini memberikan tekanan besar pada sektor pengumpul sampah informal seperti pemulung, yang selama ini menjadi tulang punggung dalam mengumpulkan sebagian besar sampah plastik rumah tangga di wilayah tersebut.

“Pasokan bahan baku tidak bisa ditambah dalam sekejap karena sangat bergantung pada sektor informal. Hal ini menyebabkan terjadinya jeda waktu antara lonjakan permintaan pembeli dengan kemampuan kami untuk menyediakan bahan baku yang cukup,” kata Kaplan.

Alvaro Aguilar, kepala operasional Prevented Ocean Plastic di Bali, mengatakan bahwa pengumpulan botol plastik di Indonesia sebenarnya masih stabil. Namun, hambatan logistik dan tekanan pada keuntungan makin terasa di seluruh rantai bisnis seiring krisis yang terus berlanjut.

“Harga minyak yang tinggi memang bisa membuat plastik daur ulang lebih bersaing dibanding plastik baru, tapi ada batasnya. Jika harga terus tidak stabil, banyak pembeli akan menunda pesanan dan menunggu sampai kepastian harga lebih jelas,” katanya.

Plastik Daur Ulang sebagai Pelindung Rantai Pasok

Aguilar menambahkan plastik daur ulang seharusnya memberikan stabilitas lebih bagi pembeli karena bahan bakunya berasal dari sampah lokal, jadi pasokannya tidak gampang terpengaruh oleh gangguan dari luar.

Baca juga: Air Cucian Pabrik Daur Ulang Plastik Berpotensi Tercemar

"Dalam hal ini, daur ulang berfungsi lebih sebagai pelindung rantai pasokan, bukan sekadar alternatif harga murah," katanya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau