Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal "Micromanagement", Gaya Kepemimpinan "Tirani" yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan

Kompas.com, 4 April 2026, 11:25 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam dunia kerja modern yang menuntut kolaborasi dan inovasi, gaya kepemimpinan menjadi faktor kunci keberhasilan organisasi. Namun, tidak semua gaya kepemimpinan membawa dampak positif. Salah satu yang kerap menjadi sorotan adalah micromanagement.

Mengutip artikel berjudul Destructive Leadership Behaviors: The Case of Academic Middle Leaders in Higher Education yang terbit di International Journal of Educational Research, Sabtu (4/4/2026), istilah micromanagement merujuk pada gaya kepemimpinan yang terlalu mengontrol detail pekerjaan bawahan secara berlebihan.

Gaya kepemimpinan micromanagement ini sebenarnya berangkat dari niat baik dalam mengontrol pekerjaan bawahan. Namun dalam perkembangannya bisa berujung pada dampak negatif jika dilakukan secara berlebihan.

Baca juga: Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras

Alih-alih memberi kepercayaan, atasan justru terus mengawasi, mengatur, bahkan hingga hal-hal kecil yang seharusnya bisa dikelola secara mandiri oleh karyawan.

Kontrol yang Berubah Menjadi Tekanan

Dalam praktiknya, micromanagement sering muncul dari keinginan menjaga kualitas kerja. Namun, ketika kontrol dilakukan secara berlebihan, dampaknya justru kontraproduktif.

Karyawan tidak lagi merasa dipercaya, sehingga ruang untuk berinisiatif dan berkreasi menjadi terbatas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres kerja dan menurunkan motivasi.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa micromanagement memiliki dampak luas, tidak hanya pada individu tetapi juga organisasi secara keseluruhan, yang meliputi:

1. Menurunkan Moral dan Motivasi Kerja

Karyawan yang terus diawasi cenderung merasa tidak dihargai. Hal ini dapat menurunkan semangat kerja dan keterikatan terhadap organisasi.

2. Menghambat produktivitas

Alih-alih mempercepat pekerjaan, kontrol berlebihan justru memperlambat proses karena setiap keputusan harus melalui atasan.

3. Mengganggu keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi

Pemantauan terus-menerus, bahkan di luar jam kerja, dapat meningkatkan tekanan psikologis dan mengganggu kehidupan personal.

4. Menciptakan budaya kerja yang tidak sehat

Lingkungan kerja menjadi penuh ketegangan, minim kepercayaan, dan kurang kolaboratif. Selain itu, inovasi juga terhambat karena karyawan enggan mengambil risiko atau menyampaikan ide baru.

Baca juga: Bobibos dan Kewajiban Transparansi untuk Inovasi Energi

Kepemimpinan Destruktif

Dalam kelanjutannya, micromanagement didefinisikan sebagai bagian dari desctructive leadership atau "kepemimpinan destruktif".

Istilah ini diperkenalkan oleh Tepper (2000), yaitu abusive supervisors, yang merujuk pada pemimpin yang menunjukkan sikap bermusuhan, baik secara verbal maupun nonverbal, terhadap bawahannya.

Sementara itu, Ashforth (1994) menggunakan istilah "petty tyrants" untuk menggambarkan pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan guna menekan dan menindas bawahan.

Perilaku semacam ini tidak hanya berdampak pada kinerja, tetapi juga pada kesehatan individu. Kile (1990) bahkan menyebut pemimpin dengan karakteristik tersebut sebagai health-endangering leaders, karena dapat membahayakan kesehatan fisik maupun mental karyawan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau