Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan

Kompas.com, 13 Mei 2026, 14:15 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beban utang negara yang semakin meningkat memberikan dampak yang lebih buruk bagi perempuan di negara-negara berkembang, menurut laporan terbaru dari Program Pembangunan PBB (UNDP).

Laporan tersebut menunjukkan bahwa utang ini mengancam pekerjaan perempuan, menurunkan pendapatan mereka, dan memperburuk kondisi kesehatan.

Melansir Down to Earth, Selasa (12/5/2026) para peneliti menemukan bahwa meningkatnya pembayaran utang dapat menyebabkan hilangnya 55 juta pekerjaan perempuan dalam jangka pendek, dan hingga 92,5 juta pekerjaan dalam jangka panjang saat beban utang negara berubah dari tingkat sedang ke tingkat yang tinggi.

Laporan tersebut menunjukkan pendapatan rata-rata perempuan diperkirakan akan turun sebesar 17 persen, sementara pendapatan laki-laki cenderung tidak berubah. Hal ini akan membuat kesenjangan penghasilan antara laki-laki dan perempuan semakin lebar.

Baca juga: Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan

Laporan yang berjudul, Who Pays the Price? Gender Inequality and Sovereign Debt, merupakan hasil analisis data dari 85 negara berkembang antara tahun 1990 hingga 2022.

Laporan ini menunjukkan bagaimana peningkatan pembayaran utang negara menghambat kemajuan pembangunan, terutama bagi kaum perempuan.

Dalam laporan tersebut, para ahli mencatat bahwa utang publik dunia telah meningkat lebih dari 60 persen dalam 10 tahun terakhir. Lebih dari 3,3 miliar orang tinggal di negara-negara di mana biaya untuk membayar utang lebih besar daripada anggaran untuk pendidikan atau kesehatan.

Para analis menjelaskan bahwa saat pemerintah memberikan porsi anggaran negara yang lebih besar untuk membayar utang, biaya untuk layanan kesehatan, perlindungan sosial, kesejahteraan, dan layanan publik lainnya seringkali dikurangi.

Utang hambat peningkatan PDB

Para ahli mengamati bahwa tekanan akibat pembayaran utang memiliki dampak yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan.

Data menunjukkan bahwa ketika pembayaran utang negara meningkat dari tingkat sedang ke tingkat tinggi, perempuanlah yang paling menderita karena kehilangan pekerjaan dan memburuknya kesehatan.

Laporan ini juga menyoroti potensi ekonomi jika kesenjangan kerja antara laki-laki dan perempuan dipersempit. Meningkatkan jumlah perempuan yang bekerja dapat meningkatkan pendapatan negara (PDB) secara besar-besaran, diperkirakan mencapai 58,2 persen di Timur Tengah dan Afrika Utara, 22,1 persen di Asia Selatan, dan 7,3 persen di Afrika Sub-Sahara.

Namun, beban utang dan penghematan anggaran negara justru menghambat kesempatan tersebut.

Laporan tersebut menekankan dampak kesehatan yang serius akibat krisis utang. Berkurangnya anggaran pemerintah untuk sistem kesehatan dapat menyebabkan angka kematian ibu saat melahirkan meningkat sebesar 32,5 persen, atau setara dengan tambahan 67 kematian ibu per 100.000 kelahiran.

Baca juga: PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih

Harapan hidup baik bagi perempuan maupun laki-laki juga diperkirakan akan menurun karena sistem kesehatan kekurangan dana.

Penulis laporan tersebut menggarisbawahi bahwa krisis utang ini terjadi di dunia yang sudah terdampak oleh konflik, inflasi, guncangan iklim, kurangnya ketahanan pangan, biaya pinjaman yang tinggi, serta berkurangnya bantuan luar negeri. Semua hal ini memperberat tekanan pada ekonomi negara-negara berkembang.

UNDP menegaskan bahwa strategi pengelolaan utang harus mencakup kebijakan yang memperhatikan kebutuhan perempuan. Organisasi ini meminta pemerintah dan lembaga keuangan untuk memasukkan analisis gender dalam setiap keputusan peminjaman dan pengelolaan utang.

Selain itu, mereka meminta agar investasi pada fasilitas sosial dan layanan umum dilindungi, serta lebih mengutamakan lapangan kerja, pembangunan manusia, dan kesetaraan gender daripada melakukan penghematan anggaran yang berlebihan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau