Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan

Kompas.com, 12 Mei 2026, 20:00 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Jutaan anak di Indonesia terdampak krisis iklim, dengan anak perempuan yang dinilai paling rentan. Data Children's Climate Risk Index 2026 mengungkapkan, Indonesia berada di urutan ke 46 dari 163 negara, yang mencerminkan tingginya paparan terhadap guncangan krisis iklim.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menilai perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang kini dihadapi masyarakat global.

"Di Jakarta, jutaan anak hidup dalam kerentanan berlapis akibat banjir musiman, polusi udara kronis, dan kondisi lingkungan yang tidak stabil. Anak perempuan menghadapi kerentanan yang lebih kompleks karena meningkatnya risiko putus sekolah, keterbatasan akses informasi, hingga risiko kekerasan dalam situasi krisis," ungkap Woro dalam talkshow yang digelar Yayasan Plan Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis

Pada 2025, lebih dari 3.000 peristiwa bencana berdampak pada lebih dari 10,5 juta orang dan 3,17 juta anak. UNICEF mencatat, pada November 2025 banjir parah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berdampak pada 3,5 juta orang, dan lebih dari 1 juta orang mengungsi.

Diperkirakan, sepertiga dari masyarakat yang terdampak adalah anak-anak.

Dalam laporannya, UNICEF turut menyoroti bahwa 37 persen anak di Indonesia menghadapi minimnya pemenuhan hak dasar seperti pendidikan, kesehatan, nutrisi, perlindungan, serta akses air bersih dan sanitasi yang membuat mereka lebih sulit pulih saat bencana terjadi.

Anak-anak di Indonesia timur disebut sangat rentan karena sanitasi aman di beberapa provinsi masih di bawah 2 persen. Selain itu, kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di wilayah ini juga tertinggal signifikan dibandingkan provinsi lainnya.

Woro menyampaikan, sejauh ini pemerintah memperkuat ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan melalui berbagai kebijakan nasional.

Mulai dari ratifikasi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994, Protokol Kyoto melalui Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004, hingga Perjanjian Paris (Paris Agreement) melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016.

Namun, ia menekankan, kebijakan tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan semua pihak termasuk anak-anak dan generasi muda.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara

"Dalam kerangka ini, anak dan kaum muda ditempatkan sebagai mitra strategis pembangunan yang perlu dilibatkan secara bermakna dalam membangun ketahanan iklim dan masa depan yang berkelanjutan," jelas Woro.

Pembicara dalam talkshow terkait krisis iklim, yang digelar Plan Indonesia dan Predikt di Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Pembicara dalam talkshow terkait krisis iklim, yang digelar Plan Indonesia dan Predikt di Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).

Edukasi Generasi Muda 

Dalam kesempatan itu, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bersama PREDIKT secara resmi meluncurkan program CERIA (Climate Education, Resilience, Innovation, and Action). 

Tujuannya, memperkuat kesiapsiagaan perubahan iklim melalui pendekatan pendidikan, pemberdayaan, dan aksi nyata yang melibatkan anak-anak, sekolah, komunitas, serta kaum muda.

CERIA akan dilaksanakan selama tiga tahun di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur, menjangkau sekitar 6.000 anak usia 7-13 tahun serta 3.000 anak muda usia 14–24 tahun.

Fokus utamanya meliputi peningkatan literasi iklim, kesiapsiagaan bencana, penguatan kepemimpinan kaum muda dalam aksi adaptasi iklim yang inklusif dan responsif gender, serta mendorong partisipasi anak dan kaum muda dalam advokasi dan pengambilan keputusan terkait isu iklim di tingkat lokal.

“Perubahan iklim juga menjadi isu keadilan sosial oleh karena itu, anak-anak, khususnya anak perempuan, harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi. Melalui CERIA, kami ingin memastikan mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan ruang untuk berkontribusi dalam membangun ketahanan komunitasnya," papar Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti. 

Sementara itu, CEO PREDIKT, Avianto Amri, menilai bagi banyak anak di Jakarta perubahan iklim bukan lagi isu yang tak terjangkau. Sebab mereka mengalaminya secara langsung akibat banjir, panas ekstrem, dan angin kencang. 

"Karena itu, kami percaya pendidikan perubahan iklim harus dengan bentuk seru dan menyenangkan sehingga membantu anak-anak merasa berdaya untuk bertindak dan menjadi bagian dari solusi," imbuhnya. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau