KOMPAS.com - Data terbaru dari badan kesehatan PBB (WHO), makanan yang tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta orang sakit dan 1,5 juta orang meninggal setiap tahun di seluruh dunia.
Melansir laman resmi United Nations, Rabu (3/6/2026) angka ini menunjukkan betapa besarnya dampak buruk makanan yang tercemar terhadap kesehatan, pembangunan, dan perekonomian, yang selama ini sering diabaikan.
Mirisnya, informasi terbaru yang dirilis menjelang Hari Keamanan Pangan Sedunia ini menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia lima tahun adalah kelompok yang paling rentan.
Meskipun jumlah anak-anak hanya 9 persen dari total penduduk dunia, mereka menanggung hampir sepertiga (sekitar 33 persen) dari seluruh kasus penyakit akibat makanan.
Baca juga: Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan
Menurut WHO, banyak dari penyakit tersebut berupa diare parah yang bisa berujung pada kematian.
Paparan bahan kimia seperti timbal dan metilmerkuri melalui makanan juga dapat merusak otak anak yang sedang berkembang, serta menyebabkan masalah saraf dan tumbuh kembang seumur hidup.
"Keamanan pangan bukanlah masalah yang abstrak, ini menyangkut setiap hidangan setiap keluarga setiap hari. Makanan yang tidak aman selalu menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat, tetapi selama ini kita tidak memiliki gambaran besar tentang betapa mengerikannya kerugian manusia dan ekonomi yang diakibatkannya. Perkiraan baru ini mengubah hal tersebut," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Studi tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar penyakit disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit di dalam makanan yaitu sekitar 860 juta kasus pada tahun 2021 saja.
Namun, kontaminasi bahan kimia justru menjadi penyebab utama dari sebagian besar kematian yang berkaitan dengan makanan tidak aman.
Menurut WHO, bahaya bahan kimia menjadi penyebab dari 73 persen kematian yang diakibatkan oleh makanan yang tercemar pada tahun 2021.
Arsenik anorganik dan timbal adalah penyumbang utama terbesar, sebagian besar karena paparan jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.
Jika digabungkan, kedua zat berbahaya tersebut berkaitan dengan lebih dari satu juta kematian dalam satu tahun saja.
Makanan bisa tercemar melalui air yang kotor, produk yang tidak ditangani dengan benar atau zat beracun yang masuk ke dalam rantai makanan akibat pencemaran lingkungan dan kegiatan industri.
Begitu bahan kimia seperti arsenik, timbal, atau metilmerkuri masuk ke dalam pasokan makanan, zat-zat tersebut sering kali sulit atau bahkan mustahil untuk dihilangkan.
WHO menyatakan bahwa wilayah Afrika dan Asia Tenggara menyumbang hampir tiga perempat (sekitar 75 persen) dari seluruh kasus penyakit akibat makanan dan 60 persen dari total kematian di dunia.
Anak-anak dan orang-orang yang tinggal di lingkungan miskin menghadapi risiko terbesar. Hal ini mencerminkan adanya ketidakadilan yang terus terjadi dalam sistem pangan, akses layanan kesehatan, dan kebersihan lingkungan.
Dampaknya juga meluas jauh melampaui masalah kesehatan saja.
WHO memperkirakan bahwa penyakit akibat makanan menyebabkan hilangnya produktivitas sekitar 310 miliar dolar AS pada tahun 2021 karena orang-orang harus absen dari pekerjaan mereka.
Jika disesuaikan dengan perbedaan biaya hidup antarnegara, kerugian ekonomi tersebut melonjak hingga diperkirakan mencapai 647 miliar AS.
Baca juga: Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Laporan ini pun menurut Yuki Minato, seorang pejabat teknis WHO untuk keamanan pangan sekaligus penulis utama dari studi menjadi sebuah peringatan keras namun juga sekaligus sebagai sebuah peta jalan.
"Data menunjukkan bahwa penyakit akibat makanan tidak hanya terus terjadi, tetapi juga diperparah oleh perubahan iklim yang meningkatkan risiko pencemaran, serta oleh kekebalan kuman terhadap obat yang membuat infeksi semakin sulit diobati. Kita tidak bisa mengatasi ancaman ini sendirian," kata Minato.
WHO menyatakan bahwa temuan ini harus membantu negara-negara untuk mengarahkan bantuan dengan tepat sasaran, memperkuat pengawasan, dan meningkatkan kerja sama di berbagai sektor seperti kesehatan, pertanian, dan lingkungan.
"Menunda-nunda akan mengorbankan nyawa," peringat Minato.
Studi ini diterbitkan dalam jurnal The Lancet Global Health.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya