Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi

Kompas.com, 18 Juni 2026, 18:36 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Kedelai sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Produk ini digunakan mulai dari pembuatan minyak goreng, makanan nabati hingga produk olahan lainnya dan termasuk juga pakan ternak.

Jadi, ketika tanaman kedelai mengalami perubahan, dampaknya tidak akan berhenti di lingkungan pertanian saja.

Melansir Earth, Rabu (17/6/2026) penelitian baru menunjukkan bahwa kondisi iklim di masa depan dapat memengaruhi pertumbuhan kedelai. Menurut studi jumlah biji kedelai bisa menjadi lebih banyak, tetapi nutrisinya justru melemah.

Di bawah tekanan gabungan dari meningkatnya gas karbon dioksida, suhu udara yang lebih panas, dan bencana kekeringan, tanaman kedelai memang bisa menghasilkan biji 50 persen lebih banyak, namun biji-biji tersebut kehilangan sebagian zat gizi penting yang membuatnya sangat berharga.

Baca juga: Kemenhut Gandeng BRIN untuk Kembangkan Bioprospeksi dari Tanaman

Biji lebih banyak, nilai gizi lebih sedikit

Marco Buckeridge dan timnya dari Institut Ilmu Hayati Universitas São Paulo meneliti bagaimana biji kedelai merespons perubahan iklim.

Penelitian mereka sangat penting karena kedelai sangat dihargai karena kandungan proteinnya. Jika kandungan protein itu turun, para petani dan produsen pakan ternak harus mengubah cara mereka dalam menilai keberhasilan panen.

Studi tersebut menemukan adanya penurunan kandungan pati sebesar 20 persen dan penurunan protein sebesar 6 persen ketika tanaman kedelai menghadapi tiga tekanan iklim secara bersamaan yakni karbon dioksida tinggi, panas, dan kekeringan. Di saat yang sama, kandungan asam amino justru melonjak naik sebesar 175 persen.

“Lonjakan kandungan asam amino itu benar-benar di luar dugaan kami. Kami bahkan belum tahu apa dampaknya jika makanan itu dimakan oleh hewan ternak,” kata Buckeridge.

“Kami harus mencari tahu bagaimana gabungan tiga dampak iklim ini memengaruhi pembentukan protein, karena protein sangatlah penting bagi kedelai yang dijadikan pakan ternak," terangnya.

“Kami sudah melihat sendiri bahwa kandungan protein berkurang drastis dalam skenario perubahan iklim yang ekstrem. Ditambah lagi, biji kedelai kehilangan kandungan patinya, yang berarti energinya juga berkurang,” katanya lagi.

Karbon dioksida bisa bertindak seperti bahan bakar bagi tumbuhan. Ketika jumlahnya di udara meningkat, banyak tanaman tumbuh lebih cepat dan menghasilkan lebih banyak biji.

Dalam penelitian ini, peningkatan karbon dioksida saja bisa menaikkan hasil panen kedelai hingga 142 persen.

Namun, perubahan iklim tidak datang satu per satu. Suhu panas dan kekeringan juga datang bersamaan. Suhu tinggi saja bisa memangkas hasil panen hingga 91 persen, sementara kekeringan memangkasnya hingga 60 persen.

Langkah selanjutnya untuk tanaman pangan

Kini para peneliti berusaha untuk menemukan gen di dalam tanaman yang mengatur respons stres terhadap perubahan iklim. Hal ini bisa membantu para ahli pemuliaan tanaman untuk menciptakan jenis kedelai baru yang kadar proteinnya tetap stabil meskipun ditanam di bawah kondisi iklim yang tidak stabil.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara

“Dengan pengetahuan tersebut, kami akan mampu merancang ulang tanaman ini agar tetap menghasilkan jumlah protein yang sama tanpa harus kehilangan banyak kandungan pati,” kata Buckeridge.

“Pada akhirnya, kita akan bisa mempersiapkan biji kedelai agar dapat beradaptasi dengan lebih baik terhadap perubahan iklim,” terangnya.

Lebih lanjut, tanaman pangan lainnya juga kemungkinan besar akan memberikan reaksi yang rumit.

Tim peneliti ini sebelumnya sudah mempelajari tanaman tebu di bawah dua tekanan iklim, dan sekarang mereka ingin memasukkan faktor suhu panas ke dalam model perkiraan komputer selanjutnya.

“Sangat mungkin bahwa jenis tanaman lain akan menunjukkan perilaku yang serupa. Kami sudah melakukan eksperimen dampak ganda pada tebu. Sekarang, kami perlu menguji faktor suhu dan menjalankan simulasinya menggunakan bantuan AI,” tambah Buckeridge.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
Program PHINLA Ubah 283 Ton Sampah Jadi Sumber Pendapatan Warga Jakarta
LSM/Figur
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau