KOMPAS.com - Presiden FIFA, Gianni Infantino mendapatkan kritik dari para aktivis lingkungan karena dianggap acuh terhadap masalah perubahan iklim.
Sebagai petinggi FIFA, Infantino tentu punya jadwal bepergian yang padat. Namun para aktivis menyebut bahwa ia punya ambisi menggebu untuk menonton pertandingan sebanyak mungkin dengan menggunakan jet pribadinya.
Mulai dari Meksiko, Guadalajara, Los Angeles, San Francisco, Vancouver, Seattle, Kansas City, Houston, dia telah berulang kali menerbangkan jet pribadinya demi bisa mendatangi stadion sebanyak 10 kali hanya dalam waktu tujuh hari.
Melansir CNA, Minggu (21/6/2026) Kebiasaan buruknya yang terus-menerus menggunakan jet pribadi Qatar Airways sebenarnya bukan hal baru.
Pada September 2024, media investigasi Josimar membongkar fakta bahwa ia telah menggunakan pesawat tersebut untuk menempuh jarak total 600.000 kilometer selama tiga tahun terakhir.
Namun, Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya digelar dengan 48 tim dengan total 104 laga yang diadakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko membuat dampak dari kebiasaan terbang Infantino menjadi berkali-kali lipat lebih buruk.
Baca juga: Dua Sisi Piala Dunia, Cetak Keuntungan Sekaligus Picu Lonjakan Emisi Karbon
"Hanya satu jam terbang dengan pesawat, polusi yang dihasilkan sudah setara dengan seluruh polusi yang dihasilkan oleh satu orang manusia biasa selama satu tahun penuh," kata Greenly, sebuah perusahaan Prancis yang ahli dalam menghitung jejak karbon.
Jika Infantino terus mendatangi dua kota dalam sehari sampai babak 16 besar selesai, lalu menonton delapan pertandingan terakhir, Greenly memperkirakan bahwa pesawatnya saja akan menghasilkan sekitar 300 hingga 500 ton polusi CO2 selama turnamen berlangsung.
Mereka mengatakan jumlah tersebut setara dengan total polusi yang dihasilkan oleh sekitar 35 hingga 55 orang warga Prancis selama satu tahun penuh.
FIFA membela perjalanan sang presiden dengan menegaskan bahwa para pimpinannya memilih antara penerbangan komersial atau jet pribadi berdasarkan mana yang paling efisien dan hemat biaya dan dalam semua situasi, pihak FIFA yang menanggung seluruh biaya perjalanan tersebut.
David Gogishvili, seorang pakar geografi dari University of Lausanne, mengatakan bahwa FIFA telah menciptakan kontradiksi ramah lingkungan.
"Dengan menggunakan kembali stadion-stadion NFL yang sudah ada tetapi letaknya sangat berjauhan di seluruh benua, FIFA telah membuat sebuah sistem yang sejak awal sangat bergantung pada perjalanan pesawat yang tinggi polusi," katanya.
"Ketika para pemimpinnya malah memberikan contoh dengan terbang ke sana kemari menggunakan jet pribadi hanya untuk menonton pertandingan, hal itu mencerminkan dengan sangat jelas masalah besar yang salah dalam sistem mereka," papar Gogishvili.
Cara FIFA mengatur Piala Dunia ini membuat kebiasaan sering terbang berpindah-pindah tempat dianggap sebagai hal yang biasa. Padahal, tindakan ini malah membebankan biaya transportasi dan polusi karbon yang besar kepada wilayah tuan rumah dan para penggemar.
John Hocevar, Direktur Kampanye Laut dari Greenpeace USA, juga memberikan kritik yang sama tajamnya terkait kebiasaan Infantino yang terus terbang berpindah-pindah stadion.
"Melihat para bos FIFA terbang setiap hari menggunakan jet pribadi yang sangat berpolusi sama sekali tidak menunjukkan bahwa FIFA paham penyebab perubahan iklim, ataupun tanggung jawab mereka untuk menjadi bagian dari solusi," tulisnya di akun Instagram.
Tidak hanya berhenti pada piala dunia 2026 saja. Tahun depan, hal yang sama akan terulang pada Piala Dunia Wanita di Brasil.
Pada tahun 2024 lalu, FIFA lebih memilih Brasil ketimbang paket tuan rumah bersama Belgia, Belanda, dan Jerman yang sebenarnya 100 persen bisa dijangkau hanya dengan naik kereta api.
Baca juga: Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Kondisi ini akan menjadi jauh lebih parah pada perayaan 100 tahun Piala Dunia pria di tahun 2030. Turnamen tersebut akan digelar di tiga negara sekaligus, yaitu Maroko, Portugal, dan Spanyol, ditambah dengan tiga pertandingan pembuka di Amerika Selatan. Apalagi, ada rencana yang belum diputuskan untuk menambah jumlah peserta menjadi 64 tim.
Lebih lanjut, mengingat Piala Dunia 2026 ini menarik perhatian banyak artis terkenal dan penonton kaya raya, penggunaan jet pribadi tidak hanya dilakukan oleh pimpinan FIFA saja. Hal ini membuat total polusi yang dihasilkan dari turnamen ini menjadi semakin besar.
Sebagai gambaran, Piala Dunia 2022 lalu mendatangkan 1.846 jet pribadi ke Qatar, seperti yang dicatat oleh jurnal ilmiah asal Inggris, Nature.
Jumlah pesawat pribadi itu jauh lebih banyak daripada gabungan jet yang datang ke acara Super Bowl, Festival Film Cannes, Forum Ekonomi Dunia di Davos, dan Konferensi Iklim COP28 sekalipun.
"Semua polusi yang dihasilkan dari Piala Dunia adalah polusi karena kemewahan, bukan karena kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Lagipula, turnamen ini sebenarnya tidak harus selalu diadakan," kata Tim Walters, seorang akademisi asal Amerika Serikat.
"Dalam situasi seperti ini, gaya hidup super mewah dan boros emisi dari orang-orang kaya raya tersebut terlihat sangat keterlaluan dan mengecilkan hati kita semua," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya