Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI

Kompas.com, 24 Juni 2026, 20:03 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com-PBB meminta perusahaan AI tidak hanya melaporkan polusi udara saja, tetapi juga harus terbuka soal seberapa banyak lahan yang mereka gusur dan seberapa banyak jutaan liter air bersih yang pakai untuk mendinginkan mesin-mesin komputer raksasa mereka.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dalam pidatonya di acara London Climate Action Week, Selasa (23/6/2026).

Ia pun mengusulkan sebuah rencana aturan agar perusahaan kecerdasan buatan (AI) mau berterus terang tentang dampak lingkungan mereka.

Mengumumkan dampak lingkungan secara terbuka

Melansir ESG Dive, Selasa (23/6/2026) Guterres meminta setiap perusahaan AI besar untuk menghitung dan mengumumkan ke publik seluruh dampak lingkungan mereka, termasuk jumlah polusi, serta penggunaan air dan lahan.

Kepala PBB tersebut juga meminta perusahaan AI berkomitmen untuk menyalakan setiap pusat data mereka menggunakan 100 persen energi terbarukan yang ramah lingkungan paling lambat tahun 2030.

Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal

"Tidak boleh ada lagi biaya tersembunyi. Tidak boleh lagi melempar beban ini kepada orang-orang kecil yang tidak mampu menanggungnya," kata Guterres.

"Sekarang saatnya untuk jujur. Jika AI ingin membantu membangun masa depan yang lebih baik, ia harus jujur tentang dampak buruk yang harus kita bayar saat ini," katanya lagi.

Guterres menyampaikan desakan tersebut agar perusahaan AI mau terbuka soal dampak lingkungan mereka dan berjanji memakai energi ramah lingkungan di pusat data. Permintaan ini adalah bagian dari tujuh rencana besar PBB untuk kemandirian energi dunia.

Di Amerika Serikat, penggunaan listrik oleh pusat data diperkirakan melonjak hingga 300 persen dalam 10 tahun ke depan. Menurut data dari Asosiasi Produsen Listrik Nasional di sana, sektor ini akan menghabiskan sekitar 38 persen dari total penggunaan listrik negara pada tahun 2037.

Guterres juga mengatakan bahwa secara global pada tahun 2030 nanti, teknologi AI berpotensi memakan listrik yang jauh lebih besar daripada gabungan konsumsi hampir seluruh negara di dunia.

Selain itu, AI diprediksi akan menyedot air bersih yang sangat banyak,setara dengan jumlah air yang dibutuhkan oleh seluruh 1,3 miliar penduduk wilayah Sahara Afrika selama satu tahun penuh.

Di sisi lain kecerdasan buatan sebenarnya bisa mempercepat solusi iklim. AI bisa membantu menyembuhkan penyakit, mengubah dunia pendidikan, dan membantu manusia menyelesaikan tantangan yang dulunya dianggap mustahil.

Menuju dunia bebas bahan bakar fosil

Sekjen PBB juga menyatakan bahwa agar dunia bisa benar-benar lepas dari bahan bakar fosil, total polusi gas rumah kaca dunia harus segera dihentikan peningkatannya sekarang juga, lalu diturunkan secara drastis dalam sepuluh tahun ini, hingga mencapai bebas polusi sepenuhnya pada tahun 2050.

Ia pun meminta negara-negara anggota G20 untuk memimpin perubahan ini, karena mereka bertanggung jawab atas 80 persen polusi di seluruh dunia.

Guterres juga meminta agar proyek energi bersih makin didukung dan bantuan dana dari pemerintah untuk bahan bakar kotor seperti minyak dan batu bara dihentikan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau