Penulis
KOMPAS.com - Kesejahteraan pekerja (employee well-being) tidak lagi sebatas program pelengkap atau sekadar fasilitas tambahan dari perusahaan.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan bisnis, aspek kesejahteraan fisik dan mental talenta kini bergeser menjadi bagian integral dari strategi keberlanjutan dan implementasi nilai-nilai Environmental, Social, and Governance (ESG).
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatat gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan memicu kerugian produktivitas hingga mendekati US$ 1 triliun.
Di luar isu burnout, kecemasan atas kepastian pekerjaan (job security) juga menjadi tantangan besar. Berdasarkan survei global tahun 2025, sekitar 25 persen pekerja mengalami stres berat akibat kekhawatiran kehilangan pekerjaan.
Persoalan ini menegaskan kelelahan kerja (burnout) maupun kecemasan akibat ketidakpastian pekerjaan tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga mengancam kapasitas dan daya tahan keberlanjutan sebuah organisasi.
Keberlanjutan sebuah bisnis sangat bergantung pada bagaimana organisasi mengelola dan melindungi modal manusianya (human capital).
"Kita terlalu sering menjadikan burnout sebagai tanggung jawab individu dengan meminta mereka lebih mampu mengelola stres," ungkap Ivan Ahda, Director of Strategic & Advisory KTM Solutions, dalam perhelatan Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 di Tangerang.
"Namun ketika burnout terus berulang, mungkin yang perlu kita lihat bukan lagi hanya individunya, tetapi juga lingkungan dan cara kerja yang membentuk keseharian mereka," tegasnya.
“Sustainable business membutuhkan sustainable contribution. Dengan perspektif itu, kepentingan bisnis dan wellbeing sebenarnya tidak perlu ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan. Wellbeing menjaga kapasitas manusianya, dan kapasitas manusia menjaga keberlanjutan bisnisnya," jelasnya.
Baca juga: Google dan YouTube Luncurkan Buku Saku Digital Well-being
KTM Solutions yang berkontribusi melalui sesi bertajuk “The Burnout Audit: Detecting Organizational Fatigue Before Turnover Occurs” menyampaikan, kesadaran perusahaan dalam memandang kesejahteraan pekerja sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi berkembang melalui tiga tahapan:
KTM Solutions menghadirkan booth interaktif di Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 (15?16/9/2026) di PIK 2, Tangerang.Evaluasi tidak hanya berfokus pada program apa yang diberikan, melainkan apakah rancangan beban kerja (job design), kepemimpinan (leadership), dan sistem alokasi sumber daya sudah memungkinkan pekerja berkontribusi secara berkelanjutan.
Guna membangun pendekatan yang holistik, kesejahteraan karier pekerja ditinjau melalui lima dimensi utama (Career Wellbeing):
Kondisi burnout dan kecemasan akibat kehilangan pekerjaan, sering kali memicu pekerja mengorbankan keseimbangan kehidupan kerja (work life balance) demi pembuktian nilai diri bagi perusahaan.
"Untuk menjembatani kontribusi pekerja dan keberlanjutan organisasi, pendekatan yang dibutuhkan bukanlah menuntut pekerja selalu menghasilkan pendapatan (revenue) secara langsung, melainkan membangun contribution awareness," jelas Ivan.
Banyak peran menciptakan nilai (value) melalui efisiensi, peningkatan kualitas, retensi pelanggan, pencegahan risiko, hingga inovasi.
Dia menyampaikan, organisasi bertugas memberikan transparansi penilaian kinerja berbasis kontribusi nyata, memberikan ruang pengembangan kapasitas, serta menciptakan rasa aman berkarir (career security).
"Tantangan utama bisnis masa depan bukan memilih antara wellbeing atau kinerja finansial, melainkan merancang tata kerja di mana manusia dapat terus menciptakan nilai bagi bisnis tanpa mengorbankan kapasitas dan kesehatan dirinya," pungkasnya.
Baca juga: Makan Gratis, Well Being, dan Pengawasan APBN 2025
Selain sharing session, dalam IHCBS 2026 yang berlangsung 15-16 September 2026, KTM Solutions menghadirkan Career Wellbeing (CWB) Assessment, di mana pengunjung dapat mengetahui gambaran kondisi career wellbeing berdasarkan lima dimensi di atas yang memungkinkan pengunjung memahami career wellbeing secara lebih dekat dan relevan dengan perjalanan karier mereka.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya