KOMPAS.com-Peristiwa tak terduga seperti bencana alam, krisis ekonomi hingga wabah penyakit merampas mata pencaharian warga dan kehidupan mereka.
Gambaran yang menyedihkan itu diperkirakan akan makin memburuk di masa depan akibat perubahan iklim dan situasi dunia yang kian tak menentu.
Namun, melansir Phys, Senin (14/9/2026) analisis baru menegaskan berbagai gejolak, baik akibat alam maupun manusia tidak harus berujung pada meningkatnya kelaparan.
Sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences membantah anggapan umum bahwa segala hal pasti akan memburuk setelah terjadinya bencana. Sebaliknya, penelitian ini memberikan bukti nyata bahwa hubungan antara bencana dan krisis pangan sebenarnya bisa diputus.
Baca juga: Mengapa Kita Selalu Terlambat Menghadapi Bencana?
Kunci utamanya adalah ketahanan. Secara sederhana, ketahanan adalah kemampuan masyarakat, komunitas, lingkungan, maupun sistem pangan untuk bertahan dan tetap berfungsi dengan baik meskipun dilanda bencana dan gejolak.
Menggunakan kumpulan data besar dari puluhan negara di seluruh dunia yang dicatat selama lebih dari 10 tahun, para peneliti internasional menunjukkan bahwa hal yang paling penting saat menghadapi bencana bukanlah seberapa maju suatu negara atau seberapa sering negara tersebut dilanda bencana.
Yang jauh lebih penting adalah seberapa siap negara tersebut dan seberapa besar kapasitas ketahanan yang telah disiapkan.
Para peneliti menemukan beberapa contoh negara, khususnya di Asia yang menunjukkan perbaikan tingkat ketahanan pangan, meskipun negara-negara tersebut dilanda bencana yang lebih parah dibandingkan negara lain di dunia.
"Di tengah meningkatnya bencana dan gejolak seperti perubahan iklim, konflik, dan pandemi, temuan ini sangat penting. Ini membuktikan bahwa krisis pangan bukanlah sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan penderitaan dapat dicegah jika suatu negara, khususnya sistem pangannya, benar-benar siap," ujar Chris Béné, penulis utama penelitian ini.
Untuk memahami faktor yang membuat suatu negara mampu menjaga ketahanan pangan di tengah krisis dan bencana, para peneliti mengamati negara-negara dengan tingkat pendapatan berbeda.
Mereka menganalisis berbagai faktor, seperti tingkat keparahan bencana, kemampuan pemerintah, kualitas infrastruktur, keharmonisan ekonomi dan sosial, serta ciri khas dari sistem pangan negara tersebut.
Baca juga: APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
Hasil penelitian ini memberikan masukan penting bagi pemerintah yang ingin memperkuat kesiapsiagaan nasional dan ketahanan pangan. Meskipun setiap negara berbeda, ada beberapa prinsip umum yang ditemukan yakni banyaknya sumber pangan, pemerintah yang efektif serta hubungan sosial yang kuat.
"Untuk memperkuat sistem pangan yang tahan bencana, pemerintah, lembaga pembangunan, dan lembaga keuangan harus memprioritaskan peningkatan kemampuan pemerintah dalam mengantisipasi serta merespons bencana," ungkap Jose-Luis Vivero-Pol, salah satu penulis penelitian
"Selain itu, penting untuk mendorong keberagaman sumber pangan, bukan hanya mengejar efisiensi pasokan cepat serta berinvestasi pada kemampuan masyarakat di tingkat rumah tangga dan komunitas untuk melindungi gizi dan aset keluarga," tambahnya.
Di tengah banyaknya kisah duka akibat bencana di berbagai belahan dunia, penelitian ini hadir membawa harapan. Studi ini membuktikan bahwa meski banyak bencana yang tidak bisa diprediksi, dampaknya tetap bisa dikurangi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya