Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

RUPTL Terbaru Dinilai Tingkatkan Penggunaan Energi Fosil

Kompas.com, 16 Juni 2025, 20:58 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Analisis Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan, Rencana Umum Perencanaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 PLN meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil.

Selain itu, rencana tersebut juga dinilai melemahkan ambisi energi bersih Indonesia. Menurut CREA, tenaga listrik berbahan bakar fosil dan gas nasional akan meningkat hingga 40 persen dari 286 terawatt hour (TWh) pada 2024 menjadi 406 TWh di 2034.

"Terkait kapasitas pembangkitan, rencana baru mengusulkan penambahan 16,6 GW tenaga fosil baru hingga tahun 2034, memperdalam ketergantungan pada bahan bakar fosil," ujar Analis Utama CREA, Lauri Myllyvirta, dalam keterangannya, Senin (16/6/2025).

Di samping itu, target energi terbarukan RUPTL 2025-2034 turun dari RUPTL 2021-2030 yakni 20,9 gigawatt (GW) menjadi 17,0 GW. Artinya, RUPTL baru menurunkan target energi terbarukan sebesar 2,3 GW.

"Alih-alih mempercepat pergeseran menuju penggunaan optimal potensi energi terbarukan Indonesia yang sangat besar, rencana terbaru justru berisiko mengarahkan jaringan listrik nasional lebih bergantung pada bahan bakar fosil," ucap Lauri.

"Visi Presiden Prabowo untuk menghentikan penggunaan energi fosil secara bertahap pada tahun 2040 sama sekali tidak tercermin dalam rencana ini, dan sayangnya tidak ada jadwal pemensiunan yang jelas," imbuh dia.

Target energi bersih dalam RUPTL terbaru juga lebih rendah dari Just Energy Transition Partnership Comprehensive Investment and Policy Plan (JETP CIPP) 2023. Lauri menyebutkan, RUPTL menargetkan 10,6 GW energi surya dan angin pada 2030, hanya 40 persen dari 24,3 GW yang diuraikan dalam JETP CIPP.

Pihaknya menggarisbawahi, kendati ada peningkatan dalam target energi terbarukan yang ditetapkan untuk pengembangan di fase kedua (2030-2034), peningkatan semua energi terbarukan dalam fase pertama (2025-2029) lebih lambat dibandingkan target dalam RUPTL 2021-2030.

"Hal ini adalah kemunduran yang disayangkan, mengingat ketertinggalan yang patutnya dikejar akibat implementasi RUPTL 2021-2030 antara tahun 2020 dan 2024 yang jauh dari ambisi yang ditetapkan," ucap dia.

CREA juga memprediksi, bahan bakar batu bara dan gas akan mendominasi peningkatan kapasitas maupun pembangkitan selama 10 tahun ke depan. Pihaknya menyebut, usulan penghentian bertahap penggunaan batubara dalam dokumen JETP CIPP tidak diadopsi sama sekali.

"Penambahan bahan bakar fosil gas ini berisiko prospek pasokan yang tidak pasti dan mahal, bertentangan dengan visi Presiden Prabowo terhadap swasembada energi dan keekonomian yang efisien," papar Lauri.

Tak Ada Pengurangan Emisi

Dalam analisisnya, CREA menyatakan pemerintah berisiko kehilangan peluang. Sebab RUPTL baru mencerminkan keraguan terhadap akselerasi energi terbarukan untuk mencapai target yang sejalan dengan iklim, menarik investasi energi bersih, menjamin kemandirian dan daya saing.

Penambahan kapasitas bahan bakar fosil sebesar 16,6 GW dari tahun 2025 ke tahun 2029 serta penundaan peluncuran energi terbarukan sebesar 42,1 GW setelah tahun 2030 pun mengartikan tidak akan ada pengurangan emisi yang signifikan dalam dekade mendatang.

CREA mencatat dampak kesehatan kumulatif terkait polusi udara yang disebabkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara akan mengakibatkan 303.000 kematian dan biaya kesehatan sebesar 210 miliar dollar AS.

Karena itu, analisisnya merekomendasikan penghentian PLTU batu bara lebih cepat di tahun 2040 sesuai target 1,5 derajat celsius pada Paris Agreement.

Lainnya, mengusulkan penyusunan peta jalan pensiun batu bara nasional yang mempertimbangkan dampak kesehatan dan beban ekonomi akibat ketergantungan. Kedua, meningkatkan pengembangan energi terbarukan pada 2025-2029 yang menggantikan batu bara dan gas.

"Diterapkannya pemantauan ketat terhadap pelaksanaan proyek energi terbarukan, mengingat seberapa pentingnya pertanggungjawaban PLN atas komitmen yang tercantum dalam RUPTL," kata Lauri. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
Menteri LH Apresiasi Ekowisata yang Memuliakan Lingkungan, dari Dusun Bambu hingga EIGER Nature
BrandzView
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Astra dan BKKBN Perkuat Kolaborasi Pencegahan Stunting di Desa Sejahtera Astra Gedepangrango
Desa Sejahtera Astra
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Langkah Membumi Market 2026 Buktikan Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Menyenangkan
Swasta
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Krisis Iklim Dorong Pernikahan Anak dan Kehamilan Remaja
Pemerintah
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Kasus Melonjak, WHO Terbitkan Panduan Global Pertama Penanganan Obesitas Anak
Pemerintah
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Studi Global: Adopsi AI Justru Dorong Peningkatan Lapangan Kerja
Pemerintah
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Hashim: Tutup Industri Batu Bara Bisa Picu “Bunuh Diri Ekonomi”
Pemerintah
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
82 Persen Investor Global Waspadai Dampak Krisis Iklim pada Harga Aset
Pemerintah
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
Harga dari Ketiadaan Data Emisi, Keunggulan Produk Ekspor RI Terkikis Pajak Karbon
LSM/Figur
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pakar Iklim Dunia Rilis 5 Langkah Strategis Hadapi El Nino
Pemerintah
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
AESI Dorong Pemanfaatan PLTS dan Baterai untuk Percepat Transisi Energi di ASEAN
Swasta
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Geliat Ekonomi Biru di Pulau Pari, dari Penanaman 1.000 Mangrove hingga Literasi Keuangan Warga
Swasta
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Menekan Sampah Pascakonsumsi lewat Inovasi Kemasan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau