Para ilmuwan dapat mengubah lingkungan tempat ragi berkembang biak untuk memodifikasi rasa, tekstur, dan kandungan nutrisinya. Dengan begitu, mereka bisa membuat minyak ini memiliki tingkat kejenuhan yang berbeda, sehingga menyerupai beragam jenis lemak.
“Jika kita berhasil, kita dapat mencegah penebangan hutan-hutan tropis. Saat ini, luas lahan yang kita gunakan untuk membudidayakan minyak nabati setara dengan ukuran negara Argentina, salah satu dari lima negara terbesar di dunia," terang Chuck.
Permintaan akan minyak sawit bahkan terus meningkat. Industri minyak sawit sendiri memiliki nilai sebesar 50,6 miliar dolar AS pada tahun 2021 dan diperkirakan akan tumbuh menjadi 65,5 miliar dolar AS pada tahun 2027.
"Kita membutuhkan hutan yang tersisa sebagai paru-paru planet. Kita tidak bisa menebang semuanya," papar Chuck.
Dan mengganti minyak sawit itu dengan minyak berbasis ragi bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya