Editor
Dalam konteks lain, Namie dan Namie (2011) menggunakan istilah "bullies" untuk menggambarkan pemimpin yang bertindak demi kepentingan pribadi dengan menggunakan intimidasi terhadap bawahan.
Intimidasi tersebut dapat menyerang reputasi pribadi, status profesional, hingga menciptakan ketidakstabilan dalam pekerjaan.
Baca juga: Inovasi Perekat Rendah Emisi, Lebih Aman untuk Rumah dan Lingkungan
Selain itu, Lipman-Blumen (2005) memperkenalkan istilah "toxic leaders", yaitu pemimpin yang tidak memiliki integritas dan cenderung melakukan manipulasi serta sabotase terhadap bawahannya.
Dalam konteks penelitian ini, pemimpin destruktif didefinisikan sebagai individu yang berada dalam posisi kepemimpinan, supervisi, atau manajerial yang bertindak sebagai “perusak budaya organisasi”.
Mereka memberikan dampak negatif terhadap motivasi, kesejahteraan, dan kepuasan kerja bawahan melalui perilaku intimidasi, merendahkan, atau mempermalukan—baik dilakukan secara sengaja maupun tidak.
Pada akhirnya, perilaku tersebut tidak hanya merugikan individu, tetapi juga dapat menghambat efektivitas organisasi secara keseluruhan.
Referensi:
Ghamrawi N, Abu-Shawish RK, Shal T, Ghamrawi NA. 2024. Destructive leadership behaviors: The case of academic middle leaders in higher education. International Journal of Educational Research. 126:102382. https://doi.org/10.1016/j.ijer.2024.102382
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya