Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam dunia kerja modern yang menuntut kolaborasi dan inovasi, gaya kepemimpinan menjadi faktor kunci keberhasilan organisasi. Namun, tidak semua gaya kepemimpinan membawa dampak positif. Salah satu yang kerap menjadi sorotan adalah micromanagement.
Mengutip artikel berjudul Destructive Leadership Behaviors: The Case of Academic Middle Leaders in Higher Education yang terbit di International Journal of Educational Research, Sabtu (4/4/2026), istilah micromanagement merujuk pada gaya kepemimpinan yang terlalu mengontrol detail pekerjaan bawahan secara berlebihan.
Gaya kepemimpinan micromanagement ini sebenarnya berangkat dari niat baik dalam mengontrol pekerjaan bawahan. Namun dalam perkembangannya bisa berujung pada dampak negatif jika dilakukan secara berlebihan.
Baca juga: Ruang Kerja Terbuka Bikin Otak Karyawan Bekerja Lebih Keras
Alih-alih memberi kepercayaan, atasan justru terus mengawasi, mengatur, bahkan hingga hal-hal kecil yang seharusnya bisa dikelola secara mandiri oleh karyawan.
Dalam praktiknya, micromanagement sering muncul dari keinginan menjaga kualitas kerja. Namun, ketika kontrol dilakukan secara berlebihan, dampaknya justru kontraproduktif.
Karyawan tidak lagi merasa dipercaya, sehingga ruang untuk berinisiatif dan berkreasi menjadi terbatas. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres kerja dan menurunkan motivasi.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa micromanagement memiliki dampak luas, tidak hanya pada individu tetapi juga organisasi secara keseluruhan, yang meliputi:
Karyawan yang terus diawasi cenderung merasa tidak dihargai. Hal ini dapat menurunkan semangat kerja dan keterikatan terhadap organisasi.
Alih-alih mempercepat pekerjaan, kontrol berlebihan justru memperlambat proses karena setiap keputusan harus melalui atasan.
Pemantauan terus-menerus, bahkan di luar jam kerja, dapat meningkatkan tekanan psikologis dan mengganggu kehidupan personal.
Lingkungan kerja menjadi penuh ketegangan, minim kepercayaan, dan kurang kolaboratif. Selain itu, inovasi juga terhambat karena karyawan enggan mengambil risiko atau menyampaikan ide baru.
Baca juga: Bobibos dan Kewajiban Transparansi untuk Inovasi Energi
Dalam kelanjutannya, micromanagement didefinisikan sebagai bagian dari desctructive leadership atau "kepemimpinan destruktif".
Istilah ini diperkenalkan oleh Tepper (2000), yaitu abusive supervisors, yang merujuk pada pemimpin yang menunjukkan sikap bermusuhan, baik secara verbal maupun nonverbal, terhadap bawahannya.
Sementara itu, Ashforth (1994) menggunakan istilah "petty tyrants" untuk menggambarkan pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan guna menekan dan menindas bawahan.
Perilaku semacam ini tidak hanya berdampak pada kinerja, tetapi juga pada kesehatan individu. Kile (1990) bahkan menyebut pemimpin dengan karakteristik tersebut sebagai health-endangering leaders, karena dapat membahayakan kesehatan fisik maupun mental karyawan.
Dalam konteks lain, Namie dan Namie (2011) menggunakan istilah "bullies" untuk menggambarkan pemimpin yang bertindak demi kepentingan pribadi dengan menggunakan intimidasi terhadap bawahan.
Intimidasi tersebut dapat menyerang reputasi pribadi, status profesional, hingga menciptakan ketidakstabilan dalam pekerjaan.
Baca juga: Inovasi Perekat Rendah Emisi, Lebih Aman untuk Rumah dan Lingkungan
Selain itu, Lipman-Blumen (2005) memperkenalkan istilah "toxic leaders", yaitu pemimpin yang tidak memiliki integritas dan cenderung melakukan manipulasi serta sabotase terhadap bawahannya.
Dalam konteks penelitian ini, pemimpin destruktif didefinisikan sebagai individu yang berada dalam posisi kepemimpinan, supervisi, atau manajerial yang bertindak sebagai “perusak budaya organisasi”.
Mereka memberikan dampak negatif terhadap motivasi, kesejahteraan, dan kepuasan kerja bawahan melalui perilaku intimidasi, merendahkan, atau mempermalukan—baik dilakukan secara sengaja maupun tidak.
Pada akhirnya, perilaku tersebut tidak hanya merugikan individu, tetapi juga dapat menghambat efektivitas organisasi secara keseluruhan.
Referensi:
Ghamrawi N, Abu-Shawish RK, Shal T, Ghamrawi NA. 2024. Destructive leadership behaviors: The case of academic middle leaders in higher education. International Journal of Educational Research. 126:102382. https://doi.org/10.1016/j.ijer.2024.102382
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya