Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Ekstrem Bikin Padi Sulit Tumbuh, RI-Malaysia Paling Terdampak

Kompas.com, 20 April 2026, 09:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Padi menjadi sumber pangan bagi lebih dari separuh penduduk dunia. Namun, tanaman ini sekarang menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya yakni panas ekstrem akibat perubahan iklim.

Sebuah penelitian baru dari University of Florida pun menggabungkan ilmu arkeologi, iklim, dan data tanaman modern untuk menjawab satu pertanyaan sederhana: seberapa kuat sebenarnya padi menahan panas? Jawaban ini sangat menentukan ketersediaan pangan bagi dunia.

Melansir Earth, Rabu (15/4/2026) penelitian menunjukkan bahwa padi jarang bisa tumbuh subur jika suhu rata-rata tahunan naik di atas 28 derajat C. Selama masa tanam, masalah mulai muncul ketika suhu melewati 33 derajat C.

Jika suhu lebih panas dari itu, hasil panen akan merosot karena serbuk sari sulit membuahi tanaman. Pada panas yang ekstrem mendekati 40 derajat C, tanaman padi akan kesulitan untuk bisa bertahan hidup.

Baca juga: Akademisi: Godzilla El Nino 2026 Berpotensi Munculkan Hama Padi

Batasan suhu ini tidak hanya berdasarkan percobaan jangka pendek. Hal ini terlihat jelas dari data pertanian modern, pantauan satelit, hingga studi tentang cara kerja tanaman.

"Tanaman tidak bisa menyesuaikan diri dengan suhu yang terlalu panas, karena pada titik tertentu, fisik tanaman tersebut akan benar-benar berhenti berfungsi," kata Nicolas Gauthier, pemimpin penelitian tersebut.

Batas suhu toleransi yang aman tersebut kini menghadapi tantangan berat. Prediksi iklim menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Asia akan segera melewati ambang batas suhu yang telah bertahan lama ini.

Pada akhir abad ini, wilayah yang suhunya melebihi 28 derajat C diperkirakan akan meluas 10 hingga 30 kali lipat di negara-negara penghasil utama padi.

Peta dalam penelitian tersebut menunjukkan pemanasan yang meluas di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara. Wilayah-wilayah yang saat ini menjadi penghasil padi terbesar di dunia diperkirakan akan menghadapi kondisi panas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Ini bukan sekadar perubahan kecil yang biasa terjadi, melainkan pergeseran ke suhu yang benar-benar baru bagi tanaman.

"Perubahan ini akan sangat mengganggu, dan proses penyesuaian diri itu tidaklah mudah atau murah. Hal ini harus dilakukan dengan sengaja dan mungkin akan terasa sulit," kata Gauthier.

Indonesia Terkena Dampak Paling Parah

Penelitian ini menunjukkan bahwa tantangan tersebut akan sulit. Analisis genetik menunjukkan bahwa banyak jenis padi yang ada saat ini mungkin tidak akan cocok lagi dengan iklim di masa depan.

Ketidakcocokan antara sifat tanaman sekarang dengan kondisi masa depan diperkirakan akan semakin parah jika emisi gas buang tetap tinggi.

Ada beberapa cara untuk beradaptasi. Petani bisa mengubah jadwal tanam atau mengembangkan jenis padi yang tahan panas. Para ilmuwan juga bisa menggunakan berbagai benih tradisional untuk menciptakan tanaman yang lebih kuat.

Namun, solusi-solusi ini ada batasnya. Padi tidak hanya sensitif terhadap panas di siang hari, tetapi juga malam yang hangat. Selain itu, padi sangat bergantung pada jenis tanah tertentu, sistem pengairan, dan cara bertani yang sudah dibangun selama berabad-abad.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau