"Wilayah di selatan, seperti Indonesia dan Malaysia, adalah yang akan terkena dampak paling parah, dan proses adaptasi ini berisiko meninggalkan banyak orang," tambah Gauthier.
"Mereka yang saat ini bergantung pada padi untuk menyambung hidup, belum tentu menjadi orang-orang yang bisa mendapatkan akses ke benih jenis baru yang sedang dikembangkan," terangnya lagi.
Memindahkan lahan penanaman padi ke daerah yang lebih sejuk mungkin bisa membantu di beberapa tempat. Namun, cara ini tidak bisa menggantikan hasil panen yang hilang di wilayah tropis yang padat penduduk, di mana miliaran orang sangat bergantung pada padi untuk makan dan mencari uang.
Dampaknya pun bakal jauh lebih luas daripada sekadar masalah pertanian. Saat ini, miliaran orang tinggal di wilayah yang suhunya akan segera melewati batas kemampuan padi untuk tumbuh. Jika hasil panen menurun, efeknya akan merembet ke sistem pangan, ekonomi, dan budaya.
Baca juga: Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Padi bukan sekadar tanaman biasa. Ia adalah inti dari makanan, tradisi, dan mata pencaharian masyarakat di seluruh Asia.
Penelitian ini memberikan gambaran yang jelas. Selama ribuan tahun, padi tumbuh dalam batasan suhu yang sempit. Perubahan iklim kini mendorongnya keluar dari batas tersebut jauh lebih cepat daripada kemampuan alami tanaman untuk menyesuaikan diri.
"Secara keseluruhan, bisa saja semua padi yang tidak bisa lagi tumbuh di Asia Tenggara nantinya akan ditanam di China sebagai penggantinya," kata Gauthier.
"Tetapi hal itu tidak mengubah dampak bagi masyarakat di Asia Tenggara yang tidak bisa begitu saja mulai menanam tanaman baru dari nol," tambahnya.
Apa yang terjadi selanjutnya akan bergantung pada seberapa cepat ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, dan cara bertani merespons tantangan ini. Tantangannya bukan hanya sekadar menanam padi di dunia yang lebih panas, tetapi juga menjaga keberlangsungan hidup masyarakat yang bergantung padanya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya