Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi: Godzilla El Nino 2026 Berpotensi Munculkan Hama Padi

Kompas.com, 17 April 2026, 16:16 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino 2026 tak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga memicu lonjakan serangan hama.

Fenomena yang disebut sebagai “Godzilla El Niño” ini diperkirakan berlangsung April hingga Oktober 2026, membawa risiko kemarau panjang yang tidak hanya menekan produksi padi, tetapi juga memicu peningkatan serangan hama seperti penggerek batang padi dan wereng batang cokelat (WBC) di berbagai sentra produksi.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Prof Hermanu Triwidodo menyatakan ada solusi sederhana, murah, dan dapat dilakukan secara massal oleh petani untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), khususnya penggerek batang padi.

Baca juga: Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global

“El Nino biasanya diikuti OPT, ada kecenderungan penggerek, biasanya serangannya berat. Kalau tidak hati-hati sejak musim tanam, dampaknya bisa luas. Karena itu perlu gerakan massal,” ujarnya dikutip dari website resmi IPB, Jumat (17/4/2026).

Menurut Prof Hermanu, pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT) perlu diperkuat melalui strategi preemtif, yakni pencegahan sebelum musim tanam. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dan ekonomis dibandingkan pengendalian setelah terjadi ledakan hama.

Pengumpulan Telur Pengerek

Salah satu langkah paling efektif adalah pengumpulan kelompok telur penggerek di fase persemaian. Hal ini penting dilakukan di awal tanam demi menekan populasi awal.

Metodenya sederhana, tidak membutuhkan teknologi mahal dan sangat bisa dilakukan para petani. “Alatnya sederhana, bisa dari botol mineral yang dibalik. Ini langkah praktis untuk mengantisipasi ledakan penggerek sejak dini,” tambahnya.

Secara ekonomi, langkah preemtif ini terbukti sangat efisien. Satu kelompok telur penggerek padi rata-rata berisi sekitar 50 butir dan dapat menyebabkan kerusakan hingga 300 malai padi atau setara 1,2 kg gabah kering panen (GKP).

Dengan asumsi harga Rp 6.500 per kilogram, potensi kerugian mencapai Rp 8.125 per kelompok telur. Artinya, tindakan kecil dengan memusnahkan satu kelompok telur saat persemaian mampu mencegah kerugian ekonomi senilai tersebut.

Lebih jauh, Prof Hermanu mengingatkan bahwa ancaman terbesar justru datang dari wereng batang cokelat (WBC). Ribuan hektar sawah bisa mengalami gagal panen total dalam hitungan hari.

Baca juga: Manfaatkan Pangan Lokal, Sup Matahari Jadi Menu Favorit Atasi Stunting di Ngawi

Vektor Virus

Selain kerusakan fisik tanaman, WBC juga berperan sebagai vektor virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang membuat tanaman tidak dapat berproduksi.

Sebagai bagian dari solusi, ia mendorong pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, termasuk pelajar. Pengumpulan kelompok telur dapat dijadikan kegiatan edukatif dengan insentif Rp 500 hingga Rp 2.000 per kelompok telur, bergantung tingkat kepadatan populasi hama.

“Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian,” imbuhnya.

Menutup keterangannya, Prof Hermanu menyatakan, “Pendekatan preemtif murah seperti ini adalah kunci. Kalau kita bisa menahan populasi dari awal, maka ekosistem sawah tetap seimbang, penggunaan insektisida bisa ditekan, dan risiko ledakan hama besar seperti WBC dapat dihindari.”

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau