"Model kami hadir untuk menyelesaikan masalah tersebut, karena dapat bekerja dengan akurat di wilayah yang sama sekali tidak memiliki data pemantauan lokal," jelasnya lagi.
Baca juga: Salju Kian Langka, Krisis Iklim Tekan Pariwisata Musim Dingin Eropa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yunani kehilangan tutupan salju musim dingin lebih cepat dibandingkan pegunungan lainnya. Hal ini dapat berdampak serius bagi masyarakat, pertanian, dan alam. Tingkat hilangnya salju dan kenaikan suhu yang terjadi saat ini sudah berada di luar batas kewajaran perubahan iklim yang normal.
"Suhu menentukan seberapa banyak air yang jatuh sebagai salju dibandingkan hujan, serta berapa lama salju itu akan bertahan di daratan," kata salah satu penulis, Profesor Ian Willis.
"Jadi, seiring suhu yang terus naik, salju yang terbentuk di tanah akan semakin sedikit, dan salju yang sudah menumpuk pun akan mencair jauh lebih cepat," paparnya.
Hilangnya tutupan salju di pegunungan dunia adalah tanda nyata bagaimana perubahan iklim terus menekan alam. Hal ini sangat terasa di tempat seperti Yunani, di mana daerah aliran sungainya kecil, suhu musim dingin sudah mendekati nol derajat, dan lelehan salju sangat penting untuk mencegah kekeringan di musim panas yang terik.
Ke depannya, para peneliti akan mengolah data tutupan salju ini untuk menganalisis perubahan volume air dalam sistem perairan. Mereka juga akan memprediksi apa yang akan terjadi pada ketersediaan air hingga akhir abad nanti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya