Dari sana, China merancang visi besar untuk membangun ekosistem elektrifikasi dari hulu ke hilir. Tujuannya jelas, yakni mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Infrastruktur energi bersih pun dibangun secara masif, mulai dari turbin angin raksasa, ladang panel surya, pembangkit listrik tenaga air, hingga jaringan transmisi tegangan tinggi.
Perusahaan-perusahaan besar di kawasan Shenzhen, Suzhou, dan Guangzhou turut menyambut kebijakan tersebut. Banyak pabrik memasang panel surya di atap bangunan untuk menyuplai kebutuhan operasional sekaligus memangkas jejak karbon.
Di sektor otomotif, Pemerintah China juga berupaya memopulerkan kendaraan listrik kepada konsumen. Salah satu momentumnya adalah ketika Tesla diizinkan memproduksi mobil di China pada 2019. Keputusan itu sekaligus memicu kompetisi dengan produsen lokal.
Tantangan itu disambut BYD. Melansir The Straits Times (27/5/2024), jagoan lokal itu mengalahkan penjualan kendaraan Volkswagen di dalam negeri pada 2023. Sementara itu, pada akhir 2023, BYD mengalahkan Tesla dalam produksi EV.
Baca juga: China Bikin Pembangkit Listrik Tenaga Surya Lepas Pantai Terbesar di Dunia
Pada akhir tahun yang sama, China juga mengalahkan Jepang sebagai eksportir otomotif dengan mengirimkan 4,14 juta kendaraan ke seluruh dunia, dengan 1,55 juta adalah EV atau hibrida.
Kecepatan dan skala elektrifikasi di China mustahil tercapai tanpa adanya mesin penggerak berupa intervensi kebijakan dari negara, khususnya dari sisi suplai dan permintaan.
Dari sisi suplai, Pemerintah China menerapkan serangkaian regulasi untuk mensubsidi produksi dan pengembangan baterai. Dukungan itu memungkinkan produsen memproduksi kendaraan secara masif dengan harga yang semakin terjangkau.
Keseriusan itu tercermin dari dukungan senilai 230 miliar dollar Amerika Serikat (AS) dari pemerintah untuk pengembangan industri EV.
Pemerintah China juga agresif mendorong elektrifikasi di ruang publik. Beberapa kebijakan yang diterapkan, antara lain mewajibkan armada transportasi publik menggunakan EV dan mendorong gedung-gedung komersial menyediakan stasiun pengisian daya.
Baca juga: Intip Kecanggihan Sistem Tukar Baterai Mobil Listrik di China
Shenzhen bahkan menjadi kota pertama di dunia yang berhasil mengelektrifikasi 100 persen armada bus publiknya. Jumlahnya mencapai 16.359 unit bus listrik.
Jenny (23), warga China yang bekerja sebagai karyawan swasta, mengatakan bahwa negaranya memiliki pelat nomor hijau untuk kendaraan listrik dan hibrida, serta pelat biru untuk kendaraan berbahan bakar fosil.
“Saya tidak tahu kapan, tetapi kendaraan dengan pelat hijau telah melampaui pelat biru. Sebagian besar tempat parkir pusat perbelanjaan menyediakan banyak stasiun pengisian daya. Ini sangat memudahkan karena orang tinggal bayar pakai ponsel,” jelasnya.
Kondisi itu tak lepas dari intervensi kebijakan pemerintah China terhadap konsumen. Di kota-kota besar, pemerintah membatasi penerbitan pelat biru dengan harga mahal dan sistem lelang. Sebaliknya, pelat hijau diterbitkan dengan kuota longgar, bahkan gratis.
Insentif lain yang diberikan adalah pembebasan pajak pembelian kendaraan baru dan subsidi tunai. Kebijakan tersebut membuat harga kendaraan listrik dapat setara, bahkan lebih murah, dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak.
Baca juga: China Perketat Regulasi Keselamatan Kendaraan Listrik
Tangan dingin Pemerintah China membuahkan hasil. Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menyebutkan, satu dekade invasi kendaraan pelat hijau (listrik) dan elektrifikasi industri berhasil memangkas rata-rata harian PM2.5 di Beijing secara ekstrem ke level 30 hingga 32 mikrogram.
Pengurangan jutaan ton emisi karbon dan berkurangnya asap knalpot dari jalanan perkotaan membawa dampak langsung terhadap kesehatan publik.
Penelitian National Institutes of Health pada 2021 menyebutkan, kebijakan elektrifikasi di kawasan Beijing–Tianjin–Hebei (BTH) mampu memangkas konsentrasi PM2.5 hingga 20 persen.
Penurunan polusi kendaraan itu diproyeksikan dapat mencegah 23,5 juta kasus morbiditas, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan asma, serta 4.600 kematian pada 2030.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya