Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau

Kompas.com, 12 Mei 2026, 14:17 WIB
I Jalaludin S,
DWN

Tim Redaksi

Secara ekonomi, berkurangnya jumlah warga yang jatuh sakit juga menyelamatkan negara dari kerugian sebesar 20,65 miliar yuan atau sekitar Rp 46 triliun. Kerugian tersebut sebelumnya muncul akibat hilangnya 1,5 juta hari kerja atau work loss days.

Baca juga: Mobil Listrik Murni Akan Dominasi 90 Persen Pasar China pada 2040

Lebih jauh, elektrifikasi juga mengubah agenda penyelamatan lingkungan menjadi mesin ekonomi baru.

China menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu membunuh industri lama. Sebaliknya, perubahan tersebut dapat melahirkan ekonomi hijau dan lapangan kerja baru atau green-collar jobs. 

Dengan rantai pasok raksasa yang membentang dari hulu ke hilir, China mampu menyerap jutaan tenaga kerja, mulai dari sektor pertambangan dan pemurnian material kritis seperti litium, para teknisi dan insinyur perakitan di pabrik baterai raksasa (gigafactory).

Tidak hanya itu, kebijakan elektrifikasi di China juga melahirkan profesi-profesi baru, seperti teknisi instalasi dan pemeliharaan charging pile (stasiun pengisian daya) yang kini menjamur di setiap basement mal dan area istirahat jalan tol nasional.

Visi Masa Depan Hijau

Satu dekade maraton elektrifikasi China menegaskan satu hal penting dalam agenda lingkungan global, yakni transformasi energi berskala besar membutuhkan keberpihakan politik.

Baca juga: China Siapkan Aturan Baru Atasi Limbah Baterai Mobil Listrik

Dengan perencanaan matang, Pemerintah China mampu merombak struktur energi industri nasional, menghadirkan transportasi publik yang terelektrifikasi, serta mengubah preferensi ratusan juta konsumen.

Pencapaian tersebut juga mendapat perhatian dari berbagai institusi ekonomi. Mereka menilai China telah mengubah lanskap geopolitik energi global melalui pengurangan emisi dan penguatan manufaktur energi bersih.

Bagi China, elektrifikasi bukan hanya agenda lingkungan. Kebijakan ini juga menjadi strategi pertahanan ekonomi dan dominasi teknologi.

Oxford Institute for Energy Studies (OIES) menyebut China tengah bertransformasi menjadi electrostate pertama di dunia. Istilah ini merujuk pada negara yang kekuatan utamanya berasal dari sistem kelistrikan dan manufaktur energi bersih, bukan dari cadangan minyak seperti petrostate.

Perubahan dari petrostate menuju electrostate juga menjadi langkah strategis China untuk mengurangi ketergantungan pada minyak mentah impor yang mencapai 70 persen. 

Baca juga: China Rencanakan Sistem Energi Baru, Hadapi Krisis Minyak akibat Perang Iran

Elektrifikasi berbasis energi bersih menjadi kunci untuk mendukung kemandirian energi sekaligus mengamankan keberlangsungan industri manufaktur yang menjadi lokomotif perekonomian China.

Kajian dari OilPrice menyebutkan, elektrifikasi merupakan hedge atau lindung nilai energi yang disadari China sejak awal. Melalui revolusi energi bersih, China berupaya melepaskan diri dari ancaman blokade di rute-rute geopolitik rawan, seperti Selat Malaka.

Perjalanan elektrifikasi di China menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbenturan dengan kelestarian lingkungan.

Revolusi senyap itu membuktikan bahwa perubahan radikal tidak selalu datang dengan hiruk-pikuk. Ia bisa hadir lewat jalanan yang lebih sunyi, udara yang lebih bersih, dan langit kota yang kembali biru.

Bagi Indonesia, khususnya Jakarta dan kota-kota besar yang tengah berjuang melawan polusi udara, China melalui Kota Beijing telah memberikan cetak biru transisi energi yang sangat berharga. 

Baca juga: Strategi Energi 5 Tahun China Akan Menggambar Ulang Peta Energi di Asia

Beberapa langkah strategis yang patut diadopsi Indonesia, antara lain menyusun kebijakan yang komprehensif dari hulu ke hilir, membangun ekosistem pabrik dan infrastruktur secara mandiri, memberikan insentif nyata bagi dunia usaha dan masyarakat, memprioritaskan transportasi publik, hingga menyeimbangkan kebutuhan manusia dan alam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau