Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem

Kompas.com, 13 Mei 2026, 18:15 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Risiko cuaca ekstrem dapat merugikan ekonomi dunia hampir Rp17.477 triliun di masa depan, menurut laporan terbaru dari CDP.

Laporan ini juga memperingatkan bahwa perusahaan dan pemerintah masih meremehkan ancaman finansial dari gangguan akibat perubahan iklim.

Melansir Edie, Selasa (12/5/2026) laporan tersebut menemukan bahwa hanya 35 persen dari 11.261 perusahaan yang melaporkan data lingkungan mereka melalui CDP pada tahun 2025 yang menyadari bahwa cuaca ekstrem adalah risiko keuangan yang serius.

Kerugian perusahaan akibat cuaca ekstrem

Meskipun begitu, banyak perusahaan melaporkan kerugian hampir 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp52,4 triliun selama setahun terakhir. Penyebab utamanya adalah melonjaknya biaya operasional dan terhentinya kegiatan perusahaan secara tiba-tiba.

Hujan deras menjadi penyebab kerugian terbesar, yakni mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,2 triliun. Perusahaan-perusahaan juga menyebutkan bahwa banjir, angin siklon, dan curah hujan ekstrem adalah ancaman besar bagi bisnis mereka di masa depan.

Baca juga: Kembali ke Ekonomi Bumi

Dunia usaha sendiri memperkirakan kerugian di masa depan bisa mencapai 898 miliar dolar AS atau sekitar Rp15.694 triliun . Dari jumlah tersebut, banjir diperkirakan menjadi penyebab kerugian terbesar, yaitu 528 miliar dolar AS atau sekitar Rp9.227 triliun.

Sementara badai siklon diperkirakan menyumbang kerugian sebesar 161 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.813 triliun, sedangkan hujan deras sekitar 86 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.503 triliun.

Hampir separuh dari risiko tersebut diperkirakan akan benar-benar terjadi dalam dua tahun ke depan. Hal ini membuat gangguan akibat perubahan iklim kini harus masuk dalam rencana investasi dan operasional perusahaan saat ini juga.

CDP menyatakan bahwa dampak keuangan utama diperkirakan akan datang dari penurunan kapasitas produksi serta kerusakan aset atau penghentian penggunaan alat lebih awal dari seharusnya.

Laporan tersebut menambahkan bahwa risiko-risiko ini menyebar ke infrastruktur, rantai pasokan, pasar asuransi, dan layanan publik, bukan hanya terbatas pada aset atau sektor tertentu saja.

Organisasi tersebut menambahkan bahwa biaya untuk menyesuaikan diri terhadap risiko iklim jauh lebih murah dibandingkan perkiraan kerugian finansial yang akan terjadi.

Laporan Disclosure Dividend 2025 dari CDP menemukan bahwa rata-rata nilai risiko akibat iklim bagi satu perusahaan adalah 39,4 juta dolar AS atau Rp688,6 miliar, sementara biaya untuk mencegah atau mengatasinya hanya butuh sekitar 3,1 juta dolar AS atau sekitar Rp54,2 miliar .

Pemerintah daerah mulai kena dampak

Laporan tersebut juga menyoroti kekhawatiran yang meningkat di kalangan pemerintah daerah. Dari 1.005 kota, provinsi, dan wilayah di 80 negara yang melapor melalui CDP pada tahun 2025, sebanyak 62 persen menyatakan bahwa mereka sudah terkena dampak serius dari peristiwa cuaca ekstrem.

Lebih dari 60 persen pemerintah daerah tersebut memperkirakan ancaman seperti panas ekstrem, banjir di perkotaan, dan kekeringan akan menjadi lebih parah atau lebih sering terjadi di masa depan.

Pemerintah daerah kini semakin melihat ancaman iklim sebagai risiko keuangan. Sebanyak 23 persen dari mereka menilai bahwa sektor keuangan dan asuransi adalah bidang yang paling terancam bahaya tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau