Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisa Dipakai Tapi Dibuang: Masalah Besar Limbah Fast Fashion

Kompas.com, 15 Mei 2026, 10:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Analisis baru menemukan bahwa banyak pakaian yang dibuang di Eropa sebenarnya masih layak pakai. Namun, karena sistem pengelolaan yang buruk, harga jual pakaian bekas yang rendah, dan banjir pakaian baru yang murah, sebagian besar pakaian tersebut akhirnya hanya menjadi sampah.

Melansir Down to Earth, Rabu (13/5/2026) dunia mode tidak pernah secepat sekarang.

Pada tahun 2022, contohnya saja merek pakaian global H&M menambah lebih dari 4.000 model baru di toko daringnya, sementara raksasa ultra-fast fashion Shein menambah lebih dari 300.000 model. Sejak saat itu, Shein menjadi merek pakaian yang paling banyak dicari di Google di seluruh dunia.

Menurut perkiraan sebelumnya, lebih dari 92 juta ton tekstil dibuang setiap tahun, sementara hanya 0,3 persen yang diputar kembali untuk digunakan.

Dalam konteks ini, sebuah analisis berita berjudul Sorting for Circularity: Project Rewear memeriksa lebih dari 8.000 pakaian di empat negara Uni Eropa. Para peneliti menemukan bahwa 37 persen pakaian tersebut tidak rusak sama sekali dan 41 persen hanya memiliki cacat kecil.

Baca juga: Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya

Meskipun sebagian besar bisa dipakai kembali dengan tambahan nilai seperti pencucian atau perbaikan, kesenjangan antara apa yang "bisa dipakai ulang" dan apa yang "benar-benar dipakai ulang" tetap terjadi karena sistem penggunaan kembali pakaian belum berkembang dengan baik.

Selain kurangnya sistem yang kuat, para peneliti juga percaya bahwa apa yang sedang tren atau apa yang mereka sebut sebagai "daya tarik yang dirasakan" sering kali menentukan harga jual kembali.

Peneliti menemukan bahwa industri penggunaan kembali pakaian menghadapi banyak tantangan. Hanya sekitar 5 hingga 10 persen pakaian yang bisa terjual dengan harga bagus.

Mengapa? Karena fast fashion telah membuat harga baju baru menjadi sangat murah, dan orang-orang sering kali ragu untuk membeli barang bekas.

“Harapan konsumen terbentuk oleh harga baju baru yang dibuat sangat murah, sementara biaya operasional untuk pengiriman, pengecekan keaslian, dan layanan lainnya tetap tinggi,” tulis laporan tersebut.

Bagian lain dari ekosistem penggunaan kembali, seperti lembaga amal, platform jual beli barang bekas, dan jasa perbaikan, memang sudah ada.

Namun, upaya mereka belum merata. Beberapa bisnis rintisan di bidang perbaikan dan penyewaan pakaian berhasil sukses dan berkembang, sementara yang lain kesulitan untuk mendapatkan keuntungan.

Selain masalah ekonomi, laporan tersebut mengatakan bahwa sektor ini juga kekurangan persiapan untuk mengolah kembali pakaian. Kegiatan seperti pembersihan, membuang serat kain yang menggumpal, perbaikan, dan pemulihan baju membutuhkan keterampilan khusus, sumber daya, tempat, dan teknologi.

Banyak pengelola, terutama organisasi nirlaba, tidak mampu memprioritaskan pekerjaan ini dalam jumlah besar. Bahkan jika persiapan pengolahan itu dilakukan, jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan total tumpukan pakaian yang harus diproses.

Upaya membatasi produksi pakaian

Meskipun laporan tersebut menyatakan bahwa Eropa memiliki stok pakaian layak pakai yang melimpah dan infrastruktur yang terus berkembang berkat dukungan aturan pemerintah, laporan itu juga menyebutkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau