Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon

Kompas.com, 13 Mei 2026, 19:38 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Wasriah (55), seorang pemulung yang telah rutin memberikan pelatihan budi daya hidroponik dalam berbagai program pembinaan dan pelatihan di unit pelaksana teknis (UPT) Sentra Mulya Jaya di Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur (Jaktim).

Ia mengajarkan keterampilan praktis untuk mempermudah narapidana anak memperoleh pekerjaan atau membuka usaha tani secara mandiri di perkotaan pasca dibebaskan.

"Ada tahanan anak yang tawuran, daripada enggak ada kegiatan, mending belajar hidroponik. Ada juga anak yang membunuh orang tuanya, saya mengajarkannya budi daya melon. Sampai sekarang berjalan, Alhamdulillah berhasil panen buahnya lebih dari dua kilogram," ujar Wasriah kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026).

Baca juga: Kala Gen Z di Jakut Pensiun Tawuran karena Jadi Petani Urban Farming

Wasriah pernah mengisi sesi pelatihan budi daya hidroponik yang diselenggarakan organisasi nirlaba pemberdayaan anak-anak prasejahtera dan jalanan, Yayasan Kampus Diakoneia Modern (KDM) di ujung aspal, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi.

Ia juga terkadang memberikan pelatihan untuk penghuni lapas perempuan di Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jaktim.

"Senang bertemu dengan mereka (narapidana perempuan), kami sering mengobrol, saling ini (berbagi pengalaman). Di sana, saya mengajarkan budi daya melon, sayuran, persemaian, tentang seberapa banyak air dan pupuk yang dibutuhkan," ucapnya.

Ia belajar budi daya hidroponik dari pendiri Swara Hijau Farm, Endang Mintarja. Dari sekitar 25 pemulung yang diajarkan budi daya hidroponik melon, Wasriah paling cepat menyerap ilmunya karena mempunyai pengalaman bertani tanaman horikultura di kampung halamannya.

Ia pun direkrut sebagai pekerja di Swara Hijau Farm, yang merupakan bagian dari usaha Yayasan Peduli Jakarta, dan diberi gaji Rp 1 juta per bulan.

"Saya pengalaman menanam bawang merah, semangka, melon, dan cabai di (Kabupaten) Brebes. Jadi, sekali atau dua kali diajarkan, langsung bisa. Punya pengalaman menanam melon, bedanya kalau di sini hidroponik," tutur Wasriah.

Sudah lebih dari tiga dekade Wasriah merantau ke ibu kota. Pada awalnya, ia dan sang suami mencari nafkah dengan berjualan nasi goreng.

Namun, setelah suaminya pergi meninggalkannya, Wasriah harus berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya dengan menjadi pemulung selama lebih dari 18 tahun.

Kini, di sela-sela kesibukan bekerja di Swara Hijau Farm dan merawat cucu-cucunya, Wasriah menyempatkan diri memulung dan hasilnya ditabung ke bank sampah sebagai dana darurat.

"Kadang-kadang saya memulung. Kalau lelah, ya enggak memulung. Sudah lima tahun bekerja di sini (Swara Hijau Farm), sekarang sama sekali enggak pulang (kampung), mengurus melon mulu. Lebaran juga mengurus melon mulu, enggak ada lagi sih," ucapnya.

Baca juga: Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah

Selain hidroponik, Swara Hijau Farm juga mengolah sampah organik dengan magott, memelihara ayam petelur, dan budi daya ikan nila di sembilan kolam terpal bundar.

Dalam mengolah usahanya, Swara Hijau Farm melibatkan sekitar 30 para ibu pemulung yang senang mengisi waktu luangnya dengan berkumpul dan menghasilkan pendapatan tambahan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau