KOMPAS.com - Analisis baru menemukan bahwa banyak pakaian yang dibuang di Eropa sebenarnya masih layak pakai. Namun, karena sistem pengelolaan yang buruk, harga jual pakaian bekas yang rendah, dan banjir pakaian baru yang murah, sebagian besar pakaian tersebut akhirnya hanya menjadi sampah.
Melansir Down to Earth, Rabu (13/5/2026) dunia mode tidak pernah secepat sekarang.
Pada tahun 2022, contohnya saja merek pakaian global H&M menambah lebih dari 4.000 model baru di toko daringnya, sementara raksasa ultra-fast fashion Shein menambah lebih dari 300.000 model. Sejak saat itu, Shein menjadi merek pakaian yang paling banyak dicari di Google di seluruh dunia.
Menurut perkiraan sebelumnya, lebih dari 92 juta ton tekstil dibuang setiap tahun, sementara hanya 0,3 persen yang diputar kembali untuk digunakan.
Dalam konteks ini, sebuah analisis berita berjudul Sorting for Circularity: Project Rewear memeriksa lebih dari 8.000 pakaian di empat negara Uni Eropa. Para peneliti menemukan bahwa 37 persen pakaian tersebut tidak rusak sama sekali dan 41 persen hanya memiliki cacat kecil.
Baca juga: Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Meskipun sebagian besar bisa dipakai kembali dengan tambahan nilai seperti pencucian atau perbaikan, kesenjangan antara apa yang "bisa dipakai ulang" dan apa yang "benar-benar dipakai ulang" tetap terjadi karena sistem penggunaan kembali pakaian belum berkembang dengan baik.
Selain kurangnya sistem yang kuat, para peneliti juga percaya bahwa apa yang sedang tren atau apa yang mereka sebut sebagai "daya tarik yang dirasakan" sering kali menentukan harga jual kembali.
Peneliti menemukan bahwa industri penggunaan kembali pakaian menghadapi banyak tantangan. Hanya sekitar 5 hingga 10 persen pakaian yang bisa terjual dengan harga bagus.
Mengapa? Karena fast fashion telah membuat harga baju baru menjadi sangat murah, dan orang-orang sering kali ragu untuk membeli barang bekas.
“Harapan konsumen terbentuk oleh harga baju baru yang dibuat sangat murah, sementara biaya operasional untuk pengiriman, pengecekan keaslian, dan layanan lainnya tetap tinggi,” tulis laporan tersebut.
Bagian lain dari ekosistem penggunaan kembali, seperti lembaga amal, platform jual beli barang bekas, dan jasa perbaikan, memang sudah ada.
Namun, upaya mereka belum merata. Beberapa bisnis rintisan di bidang perbaikan dan penyewaan pakaian berhasil sukses dan berkembang, sementara yang lain kesulitan untuk mendapatkan keuntungan.
Selain masalah ekonomi, laporan tersebut mengatakan bahwa sektor ini juga kekurangan persiapan untuk mengolah kembali pakaian. Kegiatan seperti pembersihan, membuang serat kain yang menggumpal, perbaikan, dan pemulihan baju membutuhkan keterampilan khusus, sumber daya, tempat, dan teknologi.
Banyak pengelola, terutama organisasi nirlaba, tidak mampu memprioritaskan pekerjaan ini dalam jumlah besar. Bahkan jika persiapan pengolahan itu dilakukan, jumlahnya masih sangat sedikit dibandingkan dengan total tumpukan pakaian yang harus diproses.
Meskipun laporan tersebut menyatakan bahwa Eropa memiliki stok pakaian layak pakai yang melimpah dan infrastruktur yang terus berkembang berkat dukungan aturan pemerintah, laporan itu juga menyebutkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya