Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data

Kompas.com, 16 Mei 2026, 09:21 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Jepang meluncurkan program baru untuk mengembangkan dan menguji teknologi rendah karbon bagi pusat data. Langkah ini diambil karena Jepang ingin menekan kenaikan emisi akibat pesatnya perluasan infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI) generatif.

Melansir Eco Business, Jumat (15/5/2026) Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa inisiatif ini dirancang untuk mendukung target pengurangan emisi negara tersebut pada tahun fiskal 2030, 2035, dan 2040, serta tujuan mencapai bebas emisi karbon pada tahun 2050.

Pihak kementerian menambahkan bahwa kebutuhan akan pusat data diperkirakan akan meningkat seiring percepatan digitalisasi dan penggunaan AI generatif di Jepang.

“Mempercepat digitalisasi dan penggunaan AI generatif sangat mendesak dilakukan untuk memperkuat daya saing industri, mengurangi risiko bencana melalui penyebaran pusat data ke berbagai wilayah, menghidupkan kembali ekonomi lokal, mengatasi masalah penurunan jumlah penduduk, serta melindungi lingkungan,” ujar kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI

Program ini akan mendanai proyek-proyek yang fokus pada pengembangan dan uji coba teknologi lingkungan untuk mengurangi emisi dari infrastruktur digital. Selain itu, program ini juga akan mempelajari tren pasar dan potensi penggunaannya agar teknologi tersebut bisa diterapkan secara luas di masyarakat.

Di bawah skema ini, proyek individu bisa mendapatkan dana hingga sekitar 2 juta Dolar AS per tahun melalui kontrak kerja sama. Sementara itu, proyek yang berbasis subsidi bisa menerima hingga sekitar 1,6 juta Dolar AS, yang akan menanggung hingga setengah dari total biaya proyek.

Untuk proyek gabungan antara kontrak dan subsidi, total bantuan bisa mencapai sekitar 3,2 juta Dolar AS. Proyek-proyek ini direncanakan berjalan selama empat tahun anggaran, mulai dari tahun 2026 hingga 2029.

Mengelola dampak lingkungan dari pusat data

Jepang, sama seperti banyak negara lainnya, sedang menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengelola dampak lingkungan dari pusat data karena melonjaknya kebutuhan komputasi berbasis AI.

Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa permintaan listrik dunia dari pusat data naik 17 persen pada tahun 2025. Sementara itu, konsumsi listrik dari fasilitas khusus AI melonjak drastis sebesar 50 persen.

Badan tersebut telah memperingatkan bahwa AI dan pusat data menjadi pendorong utama kenaikan kebutuhan listrik, terutama karena model AI generatif membutuhkan banyak unit pemroses grafis yang boros energi.

Di pusat data modern, server dan perangkat akselerator memakan sekitar 60 persen dari total kebutuhan listrik. Di Jepang sendiri, permintaan untuk pusat data yang siap menjalankan AI berkembang sangat pesat.

Lembaga riset pasar Research and Markets memperkirakan bahwa pasar pusat data Jepang dapat tumbuh dari 12,8 miliar Dolar AS pada tahun 2025 menjadi hampir 39 miliar Dolar AS pada tahun 2031, yang didorong oleh penggunaan AI generatif dan investasi besar-besaran.

Tokyo tetap menjadi pusat utama, meskipun wilayah seperti Hokkaido dan Kyushu semakin banyak menarik proyek-proyek baru karena ketersediaan lahan dan adanya dukungan dari pemerintah.

Ekspansi yang cepat ini juga meningkatkan kekhawatiran atas penggunaan listrik, konsumsi air, dan beban berat pada jaringan listrik.

Baca juga: Anak Perempuan Kurang Percaya Diri Hadapi Teknologi AI Dibandingkan Laki-Laki

Sebuah studi akademik terbaru memperkirakan bahwa kebutuhan listrik pusat data terkait AI di seluruh dunia bisa naik lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030, bahkan berpotensi mencapai hampir 1 persen dari total kebutuhan listrik dunia.

Selain itu, penumpukan infrastruktur AI di wilayah tertentu dapat memberikan beban berat pada sistem kelistrikan daerah tersebut. Para pembuat kebijakan dan perusahaan teknologi kini semakin fokus pada penggunaan pendingin cair, pengoptimalan energi, dan penggunaan energi terbarukan untuk mengurangi emisi dari sektor ini.

Sistem pendingin cair mulai banyak digunakan karena sistem pendingin udara biasa sudah tidak sanggup menangani panas yang dihasilkan oleh kerja AI yang sangat berat.

Perkiraan industri menunjukkan bahwa pasar pendingin cair di Jepang bisa tumbuh lebih dari enam kali lipat pada tahun 2032.

IEA juga menyatakan bahwa meskipun energi terbarukan diharapkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan listrik pusat data, bahan bakar fosil mungkin masih akan memasok lebih dari 40 persen tambahan kebutuhan listrik di sektor ini hingga tahun 2030, kecuali jika penggunaan energi bersih dipercepat lagi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau