Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Masih Terjadi Selama Sepekan ke Depan, Ini Wilayah yang Harus Waspada

Kompas.com, 22 Mei 2026, 12:46 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hujan intensitas ringan hingga lebat diprediksi akan melanda sejumlah wilayah selama sepekan ke depan, di tengah masa peralihan musim hujan ke musim kemarau.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan akan melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur pada 22-24 Mei 2026.

Lalu di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, serta Papua.

Sedangkan pada 25-28 Mei, hujan diprediksi terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.

Baca juga: Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem

"Dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di wilayah Indonesia diprediksi masih dipengaruhi oleh beberapa aktivitas gelombang atmosfer," kata BMKG dalam keterangannya, Jumat (22/5/2026).

BMKG menjelaskan, gelombang kelvin yang bergerak ke arah timur diprakirakan aktif di wilayah Laut Andaman, Aceh, Sumatera Utara, Selat Malaka, Laut Natuna Utara, dan Kalimantan Utara. Sementara itu, Gelombang Rossby Ekuatorial diprediksi aktif di wilayah Kalimantan bagian tengah hingga selatan, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat bagian selatan, serta Papua Tengah bagian barat.

Selain itu, gelombang mixed rossby-gravity (MRG) juga diperkirakan aktif di Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Selat Makassar, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Aktivitas madden julian oscillation (MJO) diperkirakan berada pada fase 4 yang aktif di Kepulauan Riau, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bagian selatan Maluku Utara, hingga bagian utara Papua.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang terbentuknya awan konvektif di sejumlah wilayah Indonesia, kendati pengaruh El Nino masih berlangsung.

Baca juga: RI Sudah Masuk Musim Kemarau, Waspada Kekeringan dan Karhutla

"Aktivitas gelombang atmosfer tersebut dapat meningkatkan suplai uap air di atmosfer sehingga mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya," papa BMKG.

Kelembaban udara tinggi

Di sisi lain, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Hindia barat Bengkulu, Selat Makassar, Laut Maluku, dan Samudra Pasifik utara Papua. Kondisi ini memicu terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin yang memanjang dari Samudra Hindia barat Aceh hingga barat Sumatra Barat, Laut Flores, Perairan Maluku, hingga Laut Filipina.

Kombinasi aktivitas gelombang tropis, sirkulasi angin, kelembapan udara yang tinggi, serta pertumbuhan awan konvektif dinilai dapat meningkatkan potensi hujan di sejumlah wilayah terdampak. BMKG menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, cuaca di Indonesia masih menunjukkan dinamika khas masa peralihan.

Suhu udara pada siang hari pun terasa lebih panas dengan suhu maksimum 35 derajat celsius pada 18-20 Mei 2026 di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.

Di periode yang sama, BMKG juga mencatat curah hujan harian lebat hingga sangat lebat di Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Papua Tengah, Kalimantan Barat, dan Jambi. 

Baca juga: EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata

"Dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi," jelas BMKG.

Anda dapat memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, dan media sosial @infobmkg.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau