Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat

Kompas.com, 21 Mei 2026, 19:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Harga bahan makanan yang terdampak cuaca buruk naik dua kali lipat lebih cepat dibandingkan barang belanjaan lainnya. Ini adalah hasil analisis terbaru dari lembaga Energy & Climate Intelligence Unit (ECIU).

Melansir Edie, Rabu (20/5/2026) analisis tersebut menemukan bahwa produk-produk yang paling mudah rusak akibat perubahan cuaca sebenarnya hanya memakan porsi sekitar 11 persen dari total daftar belanjaan kita.

Namun, produk yang sedikit ini justru menjadi biang kerok yang menyumbang sekitar 30 persen hingga 40 persen dari total kenaikan harga pangan selama dua tahun terakhir.

Barang-barang yang harganya naik gila-gilaan ini biasanya adalah bahan makanan pokok yang sangat penting dan wajib dibeli sehari-hari, sehingga masyarakat tidak punya pilihan selain tetap membelinya meski mahal.

Baca juga: Singapura Perkuat Ketahanan Pangan dengan Genjot Produksi Sayuran

Lembaga ini menyatakan bahwa perbedaan ini menunjukkan betapa tingginya tekanan kenaikan harga saat ini, karena menumpuk pada beberapa bahan makanan pokok yang jumlahnya sedikit tersebut.

Kenaikan bahan pangan utama karena iklim

Laporan juga menyoroti lima jenis bahan pangan utama yakni mentega, daging sapi, susu, kopi, dan cokelat.

Kenaikan harga kelompok ini mencapai puncaknya sebesar 16 persen pada bulan Juli 2025, yang berarti enam kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan harga makanan dan minuman lainnya.

Guncangan akibat iklim terhadap hasil panen, jalur pengiriman barang, dan pasar perdagangan dunia kini mulai berdampak langsung pada harga eceran di toko-toko. Hal ini membuat perkiraan harga-harga di masa depan menjadi semakin tidak menentu dan tidak stabil.

Lembaga ECIU berpendapat bahwa perubahan iklim sekarang telah menjadi penyebab utama yang permanen atas kenaikan harga pangan, bukan lagi sekadar gangguan sementara.

Hal ini menciptakan tekanan yang terus-menerus pada dompet atau anggaran rumah tangga, serta menyulitkan tugas pemerintah yang sedang berusaha menstabilkan harga-harga barang.

Selain iklim, pasar pangan dunia juga harus menghadapi gangguan besar akibat faktor global lainnya, termasuk ketegangan politik antarnegara yang berkaitan dengan konflik Iran serta naik-turunnya harga energi.

Tekanan-tekanan ini bisa memperparah kelangkaan pasokan barang yang sudah rusak akibat cuaca buruk, sehingga akhirnya mendongkrak biaya pembuatan produk, biaya transportasi hingga biaya pengolahan di pabrik.

Baca juga: Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?

"Meskipun angka kenaikan harga saat ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah belum berdampak langsung pada harga makanan, namun tekanan di dalam jalur pengiriman barang sebenarnya terus menumpuk," ungkap Chris Jaccarini, seorang analis bidang lahan, pangan, dan pertanian dari ECIU.

Harga makanan diperkirakan akan menjadi 50 persen lebih mahal dibandingkan saat krisis biaya hidup dimulai pada pertengahan tahun 2021. Sementara itu, biaya listrik atau bensin, asuransi, dan air sudah lebih dulu naik sebesar itu,

Dan selama kita belum bisa menstabilkan iklim, masyarakat akan terus menanggung biaya yang mahal ini.

"Jika kita tidak segera menghentikan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi hingga bersih, tekanan harga ini akan semakin parah. Hanya dengan mencapai net-zero kita bisa mengembalikan keseimbangan iklim dan melindungi diri kita dari keputusan-keputusan tak terduga dari para pemimpin dunia," tambah Jaccarini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau