Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi Makin Kritis, Pemimpin Asia Desak Tindakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup

Kompas.com, 8 Juni 2026, 18:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah, organisasi internasional, dan kelompok masyarakat di berbagai wilayah Asia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026) lalu dengan mendesak adanya tindakan yang lebih nyata untuk mengatasi krisis iklim.

Mereka sangat mengkhawatirkan suhu bumi yang makin panas, cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, serta kerusakan lingkungan yang makin parah.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini pertama kali dibuat oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1972 setelah diadakannya Konferensi Stockholm tentang Lingkungan Hidup Manusia.

Sejak pertama kali dirayakan pada tahun 1973, momen ini telah menjadi wadah terbesar PBB untuk mengajak masyarakat dunia peduli terhadap lingkungan.

Seruan dunia atasi krisis iklim

Melansir Eco Business, Jumat (5/6/2026) di Korea Selatan, Presiden Lee Jae-myung mengajak warganya untuk ikut serta melakukan aksi nyata penyelamatan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Ajakan ini disampaikan saat negara tersebut meluncurkan sebuah gerakan nasional yang menyatukan kelompok agama, dunia usaha, masyarakat, dan perwakilan pemerintah untuk mengatasi krisis iklim.

Baca juga: Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir

"Upacara peluncuran Korea Climate Action ini adalah momen yang sangat berarti di mana kelompok agama, perusahaan, masyarakat, dan pemerintah berkumpul bersama untuk berjanji mengambil tindakan dalam menghadapi krisis iklim," tulis Lee di akun resmi X miliknya.

Lee mengatakan bahwa cara menghadapi perubahan iklim harus dimulai dari tindakan nyata di kehidupan sehari-hari, bukan sekadar slogan atau kata-kata manis.

Ia mengajak masyarakat untuk mengurangi pemakaian barang sekali pakai, menghemat listrik, naik transportasi umum, dan selalu membawa tas belanja sendiri yang bisa dipakai berulang kali.

"Pemerintah juga akan bekerja keras untuk memberikan perubahan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mereka," tambah Lee.

Pemerintah Korea Selatan mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk mengajak lebih banyak orang ikut serta dalam aksi penyelamatan lingkungan.

Selain itu, gerakan ini diharapkan bisa membantu mengubah masyarakat menjadi lebih ramah lingkungan melalui kerja sama antara dunia usaha, warga, dan lembaga pemerintah.

Sementara itu di Vietnam, Presiden To Lam memanfaatkan momen menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia pada tanggal 8 Juni untuk mengingatkan tentang makin beratnya tekanan terhadap alam. Ia juga menegaskan bahwa menjaga lingkungan sangat berkaitan erat dengan keamanan dan kemajuan suatu negara.

Ia mengatakan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi tantangan kerusakan alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tantangan itu mulai dari pemanasan global, cuaca ekstrem, mencairnya es di kutub, naiknya permukaan air laut, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, punahnya berbagai jenis makhluk hidup, hingga pencemaran laut.

Baca juga: Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia

"Lingkungan yang aman serta lautan yang damai dan lestari adalah inti dari kemajuan, keamanan, perdamaian, keadilan, moral, dan kelangsungan hidup jangka panjang setiap bangsa," kata To Lam.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau