Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi Makin Kritis, Pemimpin Asia Desak Tindakan Nyata di Hari Lingkungan Hidup

Kompas.com, 8 Juni 2026, 18:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Keamanan negara

Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan harus dianggap sebagai bagian utama dari keamanan negara sekaligus keamanan manusia. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dianggap berhasil jika masyarakatnya terpaksa hidup di tengah-tengah polusi dan alam yang rusak.

To Lam juga menekankan betapa rapuhnya Vietnam terhadap perubahan iklim karena negara tersebut memiliki garis pantai yang sangat panjang, yaitu lebih dari 3.260 kilometer. Selain itu, Vietnam memiliki daerah aliran sungai yang besar dan jutaan warga yang sumber penghasilannya sangat bergantung pada alam laut serta pantai.

Sementara itu di China, kantor badan lingkungan PBB (UNEP) mengadakan acara Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Beijing. Acara tersebut mengusung tema global, yaitu "Berpacu Melawan Waktu untuk Aksi Iklim".

Pertemuan itu dihadiri oleh sekitar 100 perwakilan dari berbagai badan PBB, kementerian pemerintah Cina, yayasan sosial, dunia usaha, musisi, serta organisasi kepemudaan.

Dalam sebuah pesan video, Sekjen PBB António Guterres mengatakan bahwa 11 tahun terakhir ini merupakan tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah. Ia mendesak adanya tindakan cepat untuk memotong emisi dan mengurangi risiko kerusakan iklim.

Wang Qian, pejabat sementara kepala kantor PBB untuk lingkungan (UNEP) di China, mengatakan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini fokus pada perubahan iklim, tanda-tanda bahaya yang dikirim oleh bumi, serta pilihan apa yang akan diambil oleh masyarakat untuk meresponsnya.

Baca juga: Ancaman Krisis Lingkungan, Populasi Dunia Diproyeksi Merosot pada 2064

Ia mengatakan bahwa dampak buruk iklim memang semakin parah, tetapi cara untuk mengatasinya juga semakin banyak. Ia menambahkan bahwa tindakan nyata yang dilakukan sekarang bisa membantu menciptakan masyarakat yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih sejahtera.

Pihak UNEP menyatakan bahwa mereka telah bekerja sama dengan Bandara Ibu Kota Beijing, sistem kereta bawah tanah Beijing, media sosial China (Weibo), dan lembaga pemerintah untuk menyebarkan kampanye peduli iklim, baik lewat internet maupun di pusat-pusat transportasi utama.

Asia hadapi risiko iklim yang besar

Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China menjelaskan bahwa rencana pembangunan dan undang-undang lingkungan terbaru di negara mereka menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim.

Baca juga: Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah

Mereka menegaskan bahwa keberhasilan ini sangat membutuhkan empat hal penting yakni kepemimpinan pemerintah, tindakan dari perusahaan, peran serta masyarakat, dan kerja sama antarnegara.

Desakan untuk bertindak ini muncul karena Asia sedang menghadapi risiko iklim yang semakin besar. Bank Pembangunan Asia (ADB) telah memperingatkan bahwa perubahan iklim bisa memangkas kekayaan ekonomi wilayah Asia berkembang dan Pasifik sebesar 17 persen pada tahun 2070 jika polusi terus dibiarkan tinggi.

Kerugian paling parah diperkirakan bakal terjadi akibat naiknya permukaan air laut dan menurunnya produktivitas para pekerja.

Wilayah Asia saat ini sudah mulai merasakan dampak buruk dari perubahan iklim yang semakin parah. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu di Asia memanas hampir dua kali lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata suhu bumi di bagian dunia lainnya.

Bahkan, tahun 2024 kemarin tercatat sebagai salah satu tahun paling panas sepanjang sejarah benua ini. Gelombang panas yang terjadi terus-menerus, suhu air laut yang memecahkan rekor panas, serta naiknya permukaan air laut telah meningkatkan ancaman bagi masyarakat di pinggir pantai, persediaan makanan, dan pasokan air bersih.

Para ilmuwan dan lembaga internasional juga memperingatkan bahwa fenomena cuaca El Niño kuat bisa memperparah bencana kekeringan, banjir, dan gelombang panas di sebagian wilayah Asia.

WMO mengatakan bahwa gabungan antara fenomena alam El Niño dan perubahan iklim akibat ulah manusia ini bisa mengancam sektor pertanian, keamanan air bersih, serta sumber penghasilan warga di beberapa wilayah yang paling padat penduduknya di dunia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau