Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan harus dianggap sebagai bagian utama dari keamanan negara sekaligus keamanan manusia. Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak bisa dianggap berhasil jika masyarakatnya terpaksa hidup di tengah-tengah polusi dan alam yang rusak.
To Lam juga menekankan betapa rapuhnya Vietnam terhadap perubahan iklim karena negara tersebut memiliki garis pantai yang sangat panjang, yaitu lebih dari 3.260 kilometer. Selain itu, Vietnam memiliki daerah aliran sungai yang besar dan jutaan warga yang sumber penghasilannya sangat bergantung pada alam laut serta pantai.
Sementara itu di China, kantor badan lingkungan PBB (UNEP) mengadakan acara Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Beijing. Acara tersebut mengusung tema global, yaitu "Berpacu Melawan Waktu untuk Aksi Iklim".
Pertemuan itu dihadiri oleh sekitar 100 perwakilan dari berbagai badan PBB, kementerian pemerintah Cina, yayasan sosial, dunia usaha, musisi, serta organisasi kepemudaan.
Dalam sebuah pesan video, Sekjen PBB António Guterres mengatakan bahwa 11 tahun terakhir ini merupakan tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah. Ia mendesak adanya tindakan cepat untuk memotong emisi dan mengurangi risiko kerusakan iklim.
Wang Qian, pejabat sementara kepala kantor PBB untuk lingkungan (UNEP) di China, mengatakan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini fokus pada perubahan iklim, tanda-tanda bahaya yang dikirim oleh bumi, serta pilihan apa yang akan diambil oleh masyarakat untuk meresponsnya.
Baca juga: Ancaman Krisis Lingkungan, Populasi Dunia Diproyeksi Merosot pada 2064
Ia mengatakan bahwa dampak buruk iklim memang semakin parah, tetapi cara untuk mengatasinya juga semakin banyak. Ia menambahkan bahwa tindakan nyata yang dilakukan sekarang bisa membantu menciptakan masyarakat yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih sejahtera.
Pihak UNEP menyatakan bahwa mereka telah bekerja sama dengan Bandara Ibu Kota Beijing, sistem kereta bawah tanah Beijing, media sosial China (Weibo), dan lembaga pemerintah untuk menyebarkan kampanye peduli iklim, baik lewat internet maupun di pusat-pusat transportasi utama.
Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup China menjelaskan bahwa rencana pembangunan dan undang-undang lingkungan terbaru di negara mereka menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi perubahan iklim.
Baca juga: Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Mereka menegaskan bahwa keberhasilan ini sangat membutuhkan empat hal penting yakni kepemimpinan pemerintah, tindakan dari perusahaan, peran serta masyarakat, dan kerja sama antarnegara.
Desakan untuk bertindak ini muncul karena Asia sedang menghadapi risiko iklim yang semakin besar. Bank Pembangunan Asia (ADB) telah memperingatkan bahwa perubahan iklim bisa memangkas kekayaan ekonomi wilayah Asia berkembang dan Pasifik sebesar 17 persen pada tahun 2070 jika polusi terus dibiarkan tinggi.
Kerugian paling parah diperkirakan bakal terjadi akibat naiknya permukaan air laut dan menurunnya produktivitas para pekerja.
Wilayah Asia saat ini sudah mulai merasakan dampak buruk dari perubahan iklim yang semakin parah. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu di Asia memanas hampir dua kali lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata suhu bumi di bagian dunia lainnya.
Bahkan, tahun 2024 kemarin tercatat sebagai salah satu tahun paling panas sepanjang sejarah benua ini. Gelombang panas yang terjadi terus-menerus, suhu air laut yang memecahkan rekor panas, serta naiknya permukaan air laut telah meningkatkan ancaman bagi masyarakat di pinggir pantai, persediaan makanan, dan pasokan air bersih.
Para ilmuwan dan lembaga internasional juga memperingatkan bahwa fenomena cuaca El Niño kuat bisa memperparah bencana kekeringan, banjir, dan gelombang panas di sebagian wilayah Asia.
WMO mengatakan bahwa gabungan antara fenomena alam El Niño dan perubahan iklim akibat ulah manusia ini bisa mengancam sektor pertanian, keamanan air bersih, serta sumber penghasilan warga di beberapa wilayah yang paling padat penduduknya di dunia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya