Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim

Kompas.com, 12 Juni 2026, 18:27 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Analisis terbaru dari World Resources Institute (WRI) mengungkapkan sembilan dari 14 anggota G20 tidak menunjukkan tren positif menuju target untuk mengatasi perubahan iklim pada akhir dekade.

Negara-negara besar seperti Inggris, Uni Eropa, dan Amerika Serikat justru tertinggal dalam kemajuan komitmen mereka.

Padahal, melansir Edie, Kamis (11/6/2026) negara-negara besar tersebut termasuk Inggris, AS, Kanada, dan Argentina, jika digabungkan, menghasilkan sekitar 30 persen dari total polusi global dunia.

Secara keseluruhan, seluruh anggota G20 bertanggung jawab atas lebih dari tiga perempat polusi global setiap tahunnya.

Amerika Serikat, yang menyumbang 11,16 persen emisi gas rumah kaca dunia, sempat menarik kembali dokumen target nasionalnya (NDC) sebagai bagian dari keputusan pemerintahan Trump untuk keluar dari Perjanjian Iklim Paris.

Baca juga: Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia

Sementara itu dari 14 anggota G20 yang diperiksa hanya lima negara yang saat ini berada di jalur yang benar untuk mencapai target penurunan polusi 2030.

Menurut studi tersebut, Australia, Indonesia, Rusia, Afrika Selatan, dan Türkiye tampaknya berada di jalur yang benar dalam upaya pengurangan polusi mereka.

Target-target pengurangan polusi ini ditetapkan sebagai bagian dari komitmen awal nasional (NDC) yang diajukan oleh masing-masing negara pada tahun 2020-2021, sesuai dengan Perjanjian Iklim Paris. Dari seluruh anggota G20, hanya 14 negara yang menyerahkan perkiraan data mereka untuk tahun 2030.

Untuk memantau perkembangannya, negara-negara tersebut wajib menyerahkan laporan transparansi dua tahunan (BTR) pertama mereka pada tahun 2024, dan laporan berikutnya wajib diserahkan pada akhir tahun ini (2026).

Lembaga riset WRI memeriksa kemajuan dari masing-masing negara dalam mencapai target tahun 2030 berdasarkan laporan-laporan awal tersebut.

Target pengurangan emisi

Menurut laporan WRI, perkiraan jumlah polusi pada tahun 2030 di tujuh negara anggota ternyata lebih tinggi daripada target yang sudah mereka janjikan sebelumnya.

Bagi Inggris, Korea Selatan, dan Kanada, terdapat jarak sebesar minimal 25 persen antara jumlah polusi yang mereka hasilkan nanti dengan target yang seharusnya dicapai.

Argentina harus memotong polusi mereka sekitar 1 persen setiap tahunnya, sementara Brasil membutuhkan penurunan sebesar 6,5 persen setiap tahun agar bisa memenuhi target tahun 2030 mereka.

Inggris dan Kanada sama-sama harus menggenjot pengurangan polusi mereka secara drastis, masing-masing sebesar 5,4 persen dan 5,5 persen setiap tahunnya.

Baca juga: Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia

Menurut WRI, kemajuan di Uni Eropa (EU), Meksiko, dan Jepang harus dipercepat jauh lebih cepat lagi. Kecepatan mereka dalam mengurangi polusi saat ini harus ditingkatkan menjadi sekitar dua kali lipat dari kebiasaan mereka sekarang agar target mereka bisa tercapai.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
Hutan Mangrove di Surabaya Timur Terancam Dikepung Sampah, Aliran Anak Sungai Seperti TPA
LSM/Figur
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Langkah Nyata Industri Fashion, Bentuk Aliansi Demi Kurangi Limbah Tekstil
Pemerintah
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Konflik Bersenjata Hancurkan Lahan Pertanian Global, Ancam Potensi Pangan Dunia
Pemerintah
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Adopsi AI Makin Masif, Bank Fokus Terapkan Responsible AI
Pemerintah
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Kemenhut Pilih Wehea-Kelay sebagai Lokasi Percontohan Multiusaha Kehutanan
Pemerintah
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Ekonomi Biru Indonesia Butuh Pembiayaan Inovatif, Hilirisasi Rumput Laut Jadi Peluang
Pemerintah
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Ilmuwan yang Terlalu Percaya Solusi Teknologi Cenderung Pasif Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau