Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia

Kompas.com, 27 April 2026, 09:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, melainkan kini sudah mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat dunia.

Studi baru yang dilakukan di Eropa menemukan peningkatan suhu mengurangi jam kerja, membuat makanan sehat lebih mahal, dan memberikan tekanan terberat pada orang-orang yang sudah berada di bawah tekanan paling besar.

Temuan ini berasal dari laporan Europe Lancet Countdown 2026 mengenai kesehatan dan perubahan iklim.

Melansir Earth, Sabtu (25/4/2026) salah satu pengaruh paling jelas adalah dampak panas terhadap kemampuan orang untuk bekerja.

Di seluruh Eropa, pekerja kehilangan sekitar 24 jam kerja per tahun rata-rata antara tahun 2000 dan 2023 karena kenaikan suhu.

Dampaknya sangat terasa pada pekerjaan di luar ruangan, terutama pertanian dan konstruksi. Orang-orang di sektor tersebut sering bekerja di bawah terik matahari selama berjam-jam dengan sedikit perlindungan.

Baca juga: Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?

Ketika panas menjadi berbahaya, orang-orang harus memperlambat pekerjaan, berhenti untuk istirahat yang tidak direncanakan, atau dalam beberapa kasus berhenti bekerja sama sekali.

Kehilangan jam kerja tersebut berarti upah yang lebih rendah bagi sebagian pekerja, risiko cedera yang lebih tinggi, dan tekanan fisik yang lebih besar. Hal ini juga berarti perekonomian nasional sudah melemah akibat kondisi iklim yang masih terus memburuk.

“Prioritas yang paling mendesak sudah jelas: Eropa membutuhkan perlindungan terhadap panas yang mengikat secara hukum bagi pekerja, dengan peringatan dini yang secara langsung terkait dengan standar keselamatan kerja yang dapat ditegakkan, terutama di sektor berisiko tinggi seperti pertanian dan konstruksi,” kata Shouro Dasgupta, penulis studi ini.

Pada saat yang sama, sistem perlindungan sosial harus diperkuat untuk menanggapi guncangan iklim melalui dukungan pendapatan, bantuan pangan, dan program makan siang sekolah. Dan pada akhirnya, semua ini tidak akan cukup tanpa pengurangan emisi yang cepat dan berkelanjutan.

Makanan makin mahal

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perubahan iklim memicu kerawanan pangan di seluruh Eropa, namun bukan karena makanan hilang sepenuhnya.

Masalah utamanya adalah harga, dan bagaimana harga tersebut merusak kualitas pola makan. Gelombang panas dan kekeringan mengurangi hasil panen serta merusak kualitas hasil tani, terutama buah dan sayuran.

Ketika hal itu terjadi, harga-harga naik dan makanan sehat seringkali menjadi hal pertama yang mulai dikurangi oleh keluarga.

Menurut laporan tersebut, lebih dari satu juta orang tambahan kini terdampak oleh kerawanan pangan akibat iklim. Ini adalah angka yang mengkhawatirkan, terutama di Eropa, di mana masalah kerawanan pangan sering dianggap remeh atau hanya terjadi di pinggiran masyarakat.

Baca juga: Mengapa Aksi Perubahan Iklim Bergerak Lambat?

“Gelombang panas serta kekeringan menurunkan hasil panen dan kualitas buah serta sayuran, yang kemudian memicu kenaikan harga. Hal ini membuat keluarga semakin sulit untuk mempertahankan pola makan yang sehat dan beragam,” jelas Dasgupta.

Laporan juga menemukan bahwa perubahan iklim tidak memukul semua orang di Eropa dengan cara yang sama. Perubahan iklim justru memperparah kesenjangan yang sudah ada.

Sebagian dari masalah ini terkait dengan faktor geografis. Eropa bagian Selatan dan Tenggara sudah mengalami tingkat kematian akibat panas yang lebih tinggi serta kerugian ekonomi yang lebih berat. Sementara itu, di Eropa Timur, orang lanjut usia menjadi kelompok yang paling terancam selama gelombang panas terjadi.

Laporan pun menegaskan bahwa sekadar beradaptasi saja tidaklah cukup. Jika emisi gas rumah kaca tidak segera dikurangi secara drastis, masalah ini akan terus membesar lebih cepat daripada kemampuan kita untuk melawannya.

Perubahan iklim sudah masuk ke kehidupan sehari-hari dengan cara yang sangat nyata. Perubahan iklim telah mengubah cara orang bekerja, apa yang mampu mereka makan, dan seberapa aman perasaan mereka saat cuaca ekstrem melanda.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau