Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai

Kompas.com, 23 Juni 2026, 17:46 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com-Jamur air merupakan makhluk hidup super kecil atau mikroorganisme yang punya peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan alam di sungai.

Mereka membantu membusukkan bahan organik, membersihkan zat pencemar, serta menjadi bagian dari siklus makanan dan energi di ekosistem air tawar.

Meskipun peran mereka sangat penting bagi alam, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Freshwater Biology memperingatkan bahwa keanekaragaman dan fungsi dari makhluk kecil ini sedang terancam bahaya.

Penyebabnya adalah suhu bumi yang semakin panas, musim kemarau yang semakin panjang, dan hilangnya tumbuhan di pinggiran sungai akibat krisis iklim.

Penelitian ini dipimpin oleh University of Barcelona dan Institut Penelitian Perubahan Global di Rey Juan Carlos University (IICG-URJC).

Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara

Melansir Phys, Minggu (21/6/2026), studi ini memeriksa bagaimana jamur air dan tugas-tugas yang mereka lakukan bereaksi terhadap aktivitas manusia, dengan tujuan agar kita bisa lebih memahami cara kerja ekosistem sungai dan merawatnya dengan lebih baik.

"Hilangnya hutan di pinggiran sungai berdampak buruk bagi jamur, karena hal itu membuat dasar sungai semakin terpapar terik matahari dan suhunya menjadi lebih panas," kata Aida Viza, peneliti dari Departemen Biologi Evolusioner, Ekologi, dan Ilmu Lingkungan di University of Barcelona, serta Institut Ilmu Lingkungan di RPTU University Kaiserslautern-Landau di Jerman.

Hal ini menunjukkan pemanasan global dan musim kemarau yang semakin parah bisa merusak keanekaragaman hayati serta fungsi dari makhluk hidup super kecil di ekosistem air tawar.

Limbah diklaim tak pengaruhi keanekaragaman

Tetapi di sisi lain, peneliti juga menemukan peningkatan zat kimia seperti nitrat dan fosfat yang biasanya berasal dari limbah pertanian atau perkotaan ternyata hampir tidak memengaruhi keanekaragaman atau fungsi dari jamur air ini.

Hal tersebut mungkin terjadi karena lumpur di dasar sungai menyediakan kondisi suhu dan kelembapan yang lebih stabil, sehingga sungai bisa tetap menjaga kehidupan dan menjalankan fungsinya.

"Hasil penelitian ini memberikan kabar yang cukup melegakan untuk masa depan sungai. Namun, kita harus tetap ingat bahwa akibat krisis iklim, kondisi sulit ini akan berlangsung semakin lama, dan kemampuan lumpur dasar sungai untuk menjadi tempat perlindungan bagi mikroba itu ada batasnya," tambah Viza.

Penelitian ini, yang dilakukan di bawah payung Lembaga Pengamat Sungai Iberia (IberRios), melibatkan 19 peneliti dari berbagai universitas dan lembaga riset di Spanyol, Portugal, Jerman, dan Swiss.

Baca juga: Penghidupan Jutaan Orang Asia Tenggara dari Sungai Mekong Terancam Tambang Ilegal di Myanmar

Secara keseluruhan, para peneliti mengumpulkan data dari 62 sungai di tujuh wilayah Semenanjung Iberia yang memiliki jenis tanah dan iklim yang sangat beragam.

"Metode kami memungkinkan kami untuk memanfaatkan sungai-sungai di Semenanjung Iberia sebagai laboratorium alam. Kami menggunakannya untuk menguji bagaimana krisis iklim dan ulah manusia bisa merusak keanekaragaman hayati di ekosistem ini, serta mengancam manfaat yang biasa didapatkan oleh masyarakat," kata Cayetano Gutiérrez, seorang peneliti di IICG-URJC.

Kesimpulan dari penelitian ini sangat penting untuk diterapkan dalam merawat dan mengawasi kesehatan sungai di tengah krisis iklim. Selama ini, perawatan sungai sering kali hanya fokus pada pengurangan limbah zat kimia. Padahal, cara itu saja tidak akan cukup untuk menyelamatkan keanekaragaman dan fungsi penting yang diberikan oleh jamur air.

"Penelitian baru ini menunjukkan bahwa kita harus bertindak cepat dan mengambil langkah nyata untuk mengurangi dampak buruk krisis iklim pada sungai. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah memperbanyak area teduh dengan cara menanam kembali hutan di pinggiran sungai, serta melarang pengambilan air sungai secara berlebihan, terutama saat musim kemarau," pungkas Gutiérrez.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau