KOMPAS.com - Perubahan iklim mulai mengubah pola penyebaran penyakit yang menular lewat air di seluruh dunia, menurut sebuah penelitian menyeluruh yang diterbitkan di jurnal Nature Reviews Microbiology.
Laporan ini merupakan analisis paling baru dan lengkap yang mempelajari bagaimana perubahan iklim memengaruhi penyakit-penyakit tersebut.
Melansir Phys, Kamis (16/7/2026) laporan ini memperingatkan bahwa cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dapat merusak kemajuan yang telah dicapai bertahun-tahun dalam mengurangi penyakit menular lewat air.
Padahal, penyakit-penyakit ini masih menyebabkan hampir 1,2 juta kematian akibat diare menular setiap tahunnya.
Dipimpin oleh para peneliti dari Colorado School of Public Health di University of Colorado Anschutz dan University of Washington School of Public Health, penelitian ini menemukan bahwa perubahan iklim tidak memengaruhi semua mikroorganisme penyebab penyakit dengan cara yang sama.
Baca juga: 4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Sebaliknya, bakteri, virus, dan parasit masing-masing bereaksi secara berbeda terhadap perubahan lingkungan. Hal ini menunjukkan mengapa penanganan kesehatan masyarakat harus disesuaikan khusus dengan jenis kuman penyebab penyakitnya.
"Kami ingin masyarakat tahu bahwa perubahan iklim mengubah kondisi lingkungan yang membuat kuman penyakit mudah menyebar,” kata salah satu penulis laporan ini, Elizabeth Carlton, Ph.D., profesor di Colorado School of Public Health.
“Perubahan iklim membuat penyakit menular yang paling mematikan di dunia jadi makin sulit dikendalikan karena menciptakan kondisi yang mendukung penularan,” paparnya lagi.
Laporan ini menjelaskan bahwa perubahan iklim mengubah kondisi alam yang menentukan apakah kuman bisa bertahan hidup, menyebar, dan menginfeksi manusia.
Sebagai contoh, meski penyakit lewat air sering dikaitkan dengan banjir dan hujan deras yang membawa kuman ke sumber air minum, peneliti menjelaskan bahwa kekeringan juga bisa meningkatkan risiko penyakit. Kekeringan membuat akses ke air bersih berkurang dan mengubah cara orang menggunakan air yang tersisa.
Laporan ini juga menjelaskan bahwa kenaikan suhu secara umum memicu pertumbuhan bakteri. Sebaliknya, beberapa jenis virus seperti norovirus, rotavirus, dan adenovirus justru lebih mudah menyebar di cuaca yang lebih dingin dan kering, sehingga penyebarannya mungkin akan berkurang di dunia yang semakin panas.
Laporan ini kemudian mencatat langkah-langkah praktis yang dapat membantu masyarakat beradaptasi dengan meningkatnya ancaman penyakit menular lewat air akibat perubahan iklim.
Pertama, investasi pada infrastruktur air, sanitasi, dan kebersihan yang tahan iklim. Air minum yang aman, sistem sanitasi, serta kebiasaan hidup bersih tetap menjadi cara paling ampuh untuk mencegah penyakit menular lewat air. Karena banjir, badai, dan cuaca ekstrem lainnya bisa merusak fasilitas air dan sanitasi, para peneliti menekankan pentingnya membangun sistem yang kuat dan tahan terhadap bencana iklim.
Selain itu, perluas pengawasan khusus untuk setiap jenis kuman. Deteksi dini dapat membantu petugas kesehatan mengetahui jenis kuman apa yang sedang menyebar, sehingga bantuan bisa langsung diarahkan ke tempat yang paling membutuhkan.
Bakteri, virus, dan parasit merespons iklim dengan cara yang berbeda, strategi pemantauan dan penanganannya harus disesuaikan dengan jenis kumannya, tidak bisa disamaratakan.
Tak kalah penting adalah perkuat program vaksinasi. Vaksin sudah tersedia untuk beberapa penyakit utama yang menular lewat air, seperti kolera, rotavirus, polio, hepatitis A, dan tipes.
Meningkatkan cakupan vaksin dapat menekan jumlah orang yang sakit. Namun, bencana akibat perubahan iklim bisa mengganggu pembagian vaksin seperti merusak fasilitas, menutup akses ke lokasi bencana, hingga merusak sistem pendingin tempat menyimpan vaksin.
Baca juga: Pemanasan Global Bikin Masyarakat Kurang Bergerak, Risiko Penyakit Kronis Naik
Strategi-strategi tersebut tidak hanya mengurangi penyakit lewat air saat ini, tetapi juga membantu masyarakat menjadi lebih kuat dan siap menghadapi dampak kesehatan akibat perubahan iklim di masa depan.
“Perubahan iklim mengubah aturan main bagaimana penyakit-penyakit ini menyebar. Kabar baiknya, kita sudah punya banyak alat dan cara yang dibutuhkan untuk menekan risikonya. Tantangannya sekarang adalah memastikan semua alat tersebut dirancang dan diterapkan sesuai dengan kondisi iklim yang kita hadapi saat ini dan di masa depan,” kata Carlton.
Para penulis menyimpulkan bahwa tidak ada satu cara tunggal yang bisa menangkal semua jenis penyakit menular lewat air. Sebaliknya, upaya penyesuaian terhadap perubahan iklim harus memperhitungkan bagaimana setiap kuman bereaksi terhadap perubahan lingkungan. Dengan begitu, petugas kesehatan bisa memprediksi dan mencegah wabah di masa depan dengan lebih baik.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya