Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon

Kompas.com, 21 Juli 2026, 16:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat mengatakan Indonesia mulai memasuki fase kedua pembangunan nasional yang lebih bertumpu pada pemanfaatan nilai ekonomi sumber daya alam, seperti kredit karbon (carbon credit) dan kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit).

Menurut Jumhur, fase pembangunan tersebut diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kawasan sumber daya alam.

"Seperti carbon credit dan biodiversity, ini akan menjadi gelombang pembangunan fase kedua. Kami harus memastikan masyarakat yang berada di tingkat tapak benar-benar merasakan manfaatnya," ujar Jumhur dalam acara di Kementerian PPN/Bappenas, Selasa (21/7/2026).

Baca juga: Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan

Ia mengatakan Indonesia perlu belajar dari pola pembangunan konvensional yang selama ini lebih banyak bertumpu pada pemanfaatan sumber daya alam ekstraktif.

Meski mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, model pembangunan tersebut dinilai masih menghadapi tantangan dalam pemerataan manfaat serta berisiko menimbulkan tekanan terhadap lingkungan.

Karena itu, menurut Jumhur, pengembangan instrumen ekonomi lingkungan, termasuk perdagangan karbon dan kredit keanekaragaman hayati, harus dilakukan dengan tata kelola yang baik agar manfaat ekonominya tidak hanya dinikmati pelaku pasar.

Ia menegaskan keuntungan terbesar dari pemanfaatan nilai ekonomi lingkungan harus diterima masyarakat yang menjaga kawasan hutan dan ekosistem di tingkat tapak.

"Jangan sampai kita hanya menjadi perantara perdagangan karbon. Indonesia harus menjadi pemimpin dan manfaat terbesarnya harus diterima masyarakat di lapangan," katanya.

Jumhur memperkirakan perdagangan karbon dapat menjadi salah satu sumber pendanaan pembangunan nasional dengan potensi mencapai belasan ribu triliun rupiah. Nilai tersebut, menurut dia, masih dapat meningkat seiring berkembangnya mekanisme kredit keanekaragaman hayati.

Untuk mendukung pengembangan instrumen tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup saat ini menyiapkan berbagai perangkat tata kelola.

Salah satunya melalui pembangunan Rumah Data Keanekaragaman Hayati, yang akan menjadi pusat data terintegrasi lintas kementerian, lembaga, dan berbagai pemangku kepentingan.

Pengembangan keanekaragaman hayati

Selain itu, pemerintah juga tengah menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) mengenai akses dan pembagian manfaat atas pemanfaatan sumber daya genetik, termasuk mekanisme pengembangan kredit keanekaragaman hayati.

"Kami memastikan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan berbagai instrumen yang dibangun tetap memperkuat upaya pelestarian, berkeadilan bagi masyarakat, berbasis sains, serta diterapkan dengan tata kelola yang baik dan berintegritas," ujar Jumhur.

Sementara itu, Direktur Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup, Inge Retnowati, mengatakan kredit keanekaragaman hayati memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan Nilai Ekonomi Karbon (NEK).

Baca juga: BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik

Menurut dia, pemerintah sedang menyusun standar agar biodiversity credit dapat berdiri sebagai instrumen tersendiri, sekaligus memungkinkan untuk digabungkan dengan proyek karbon apabila memenuhi kriteria tertentu.

"Nantinya bisa di-bundling atau di-stacking. Kami sedang membangun kriterianya agar kredit keanekaragaman hayati tidak hanya menjadi bagian dari proyek karbon, tetapi memiliki standar yang kuat," kata Inge kepada Kompas.com, Jumat (17/7/2026).

Ia menilai kekayaan hayati Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar sehingga memerlukan tata kelola yang transparan dan akuntabel agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

‎

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau