JAKARTA, KOMPAS.com - Perubahan menuju gaya hidup berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu. Perubahan pola konsumsi masyarakat membutuhkan dukungan kebijakan, akses terhadap pilihan yang lebih ramah lingkungan, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup, Lu’lu Agustina mengatakan, prinsip sustainable living perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut dia, gaya hidup berkelanjutan tidak seharusnya menjadi pilihan yang hanya dapat dilakukan kelompok masyarakat tertentu, tetapi harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Sustainable living for all harus diwujudkan sebagai gaya hidup yang dapat dijalankan oleh semua orang. Generasi muda juga berperan penting dalam membangun kesadaran terhadap dampak *fast fashion*,” ujar Lu’lu dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).
Menurut Lu’lu, salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah pola konsumsi yang menghasilkan dampak lingkungan dalam jangka panjang. Fenomena *fast fashion*, misalnya, mendorong konsumsi pakaian secara cepat dengan siklus penggunaan yang relatif pendek.
Karena itu, perubahan gaya hidup perlu diarahkan tidak hanya pada keputusan membeli produk yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga pada penggunaan kembali, perbaikan, dan pemanfaatan barang agar masa pakainya lebih panjang.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang berkembangnya kegiatan ekonomi baru, termasuk usaha yang bergerak dalam pemanfaatan barang bekas, perbaikan produk, pengolahan kembali material, hingga sektor pekerjaan hijau.
Perubahan perilaku masyarakat akan sulit berkembang jika tidak didukung ekosistem yang memungkinkan pilihan berkelanjutan dilakukan dengan mudah.
Lu’lu mengatakan, pemerintah perlu terus mendorong kebijakan yang dapat membantu masyarakat menerapkan komitmen terhadap lingkungan.
Selain kebijakan, pengembangan peluang kerja di sektor ekonomi hijau juga perlu dilakukan secara inklusif dan berkelanjutan. Dengan demikian, perubahan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan tidak hanya menghasilkan manfaat ekologis, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Festival Inspirasi 2026 yang digelar Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM) pada 7-8 Agustus 2026 di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan.
Namun, kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan sebagai kampanye lingkungan. YIIM menjadikannya ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan berbagai praktik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemanfaatan barang bekas dan perbaikan barang rusak.
Founder dan Dewan Pembina YIIM, Irfan Melayu mengatakan, pengalaman YIIM selama 12 tahun menunjukkan bahwa perubahan sosial dan lingkungan tidak dapat dibangun oleh satu pihak.
“Dua belas tahun perjalanan YIIM mengajarkan kami bahwa perubahan yang bermakna tidak dapat dibangun sendiri. Setiap dampak yang tercipta merupakan hasil dari kepercayaan, kepedulian, dan kolaborasi berbagai pihak,” tutur Irfan.
Karena itu, perubahan pola hidup berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan peran yang berbeda.
Pemerintah berperan menyediakan kebijakan dan lingkungan yang mendukung. Dunia usaha dapat mengembangkan produk dan model bisnis yang lebih berkelanjutan, sementara komunitas dan masyarakat berperan mengubah pola konsumsi serta penggunaan barang.
Asisten Perlindungan dan Bantuan Sosial, Deputi Peningkatan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Trukan Sri Bahukeling mengatakan, organisasi sosial dapat menjadi mitra pemerintah dalam memperluas dampak program pemberdayaan masyarakat.
“Untuk membangun sebuah gerakan yang besar, bahkan menjadi gerakan nasional, dibutuhkan *engagement* yang besar dari berbagai pihak agar program yang dijalankan dapat sejalan dengan agenda pemerintah dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Trukan.
Keterlibatan sektor swasta juga dinilai penting karena perubahan menuju gaya hidup berkelanjutan membutuhkan dukungan dari sisi produk, pembiayaan, hingga model bisnis.
Direktur PT Insight Investments Management (IIM), Ria M. Warganda mengatakan, perusahaan memiliki peran dalam memperkuat ekosistem keberlanjutan sekaligus memperluas dampak berbagai inisiatif sosial.
“Upaya membangun gaya hidup berkelanjutan membutuhkan sinergi yang konsisten antara organisasi sosial, sektor swasta, komunitas, dan masyarakat,” tutur Ria.
Menurut dia, keberlanjutan perlu diterjemahkan menjadi aksi yang memberikan dampak jangka panjang, bukan sekadar menjadi komitmen perusahaan.
Kemitraan antara PT IIM dan YIIM selama 12 tahun, menurut Ria, merupakan salah satu bentuk kolaborasi untuk menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, gaya hidup berkelanjutan tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai tanggung jawab individu. Perubahan pola konsumsi membutuhkan ekosistem yang membuat pilihan berkelanjutan menjadi lebih mudah, terjangkau, dan memberikan manfaat ekonomi sekaligus lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya