Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular

Kompas.com, 18 Agustus 2026, 09:02 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kekeringan tidak hanya mengubah tatanan ekosistem, memicu kebakaran atau mengeringkan sungai-sungai.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Trends in Ecology & Evolution mengungkapkan kekeringan juga bisa mengubah pola penyebaran penyakit menular sehingga menyebabkan lonjakan kasus penyakit seperti kolera dan virus West Nile di seluruh dunia.

Melansir laman resmi University of Colorado Boulder, Selasa (11/8/2026) menurut pakar ekologi dari Universitas Colorado Boulder, Pieter Johnson, perubahan iklim tidak hanya membuat Bumi menjadi lebih panas atau lebih kering.

Perubahan iklim juga membuat kekeringan makin tidak menentu dan sulit diprediksi. Ketidakpastian itulah yang menjadi salah satu tantangan terbesar untuk memahami dan mengendalikan penyakit di ekosistem alam.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 77 persen daratan di Bumi mengalami kondisi yang lebih kering dalam beberapa dekade terakhir.

Sebagai gambaran, di Amerika Serikat bagian barat, kekeringan parah terburuk dalam 1.200 tahun terakhir telah mengeringkan waduk-waduk penting seperti Danau Mead hingga tersisa sepertiga dari kapasitasnya. Kenaikan suhu akibat perubahan iklim membuat kekeringan terjadi lebih sering, lebih parah, dan lebih meluas.

Baca juga: Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional

Penyebaran penyakit menular yang luas

Meskipun banyak penyakit menular menyebar lewat air atau melalui hewan perantara seperti nyamuk yang butuh air untuk berkembang biak, kekeringan tidak serta-merta membuat penyakit-penyakit tersebut hilang.

Sebagai contoh, penelitian terdahulu menemukan bahwa kekeringan berkala di Florida justru meningkatkan penyebaran virus St. Louis encephalitis (radang otak), yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk terinfeksi.

Johnson pertama kali menyadari pergeseran pola penyakit ini saat meneliti parasit air di California yang menyebabkan katak terinfeksi tumbuh kaki tambahan, sehingga katak lebih mudah dimangsa predator.

Ketika kekeringan parah melanda negara bagian tersebut pada tahun 2014, Johnson dan timnya melihat bahwa kolam yang menyusut memaksa hewan amfibi berkumpul padat di sisa-sisa sumber air yang ada. Akibatnya, tingkat dan keparahan infeksi pada katak justru melonjak drastis.

“Hal itu membuat kami penasaran mengapa berkurangnya air terkadang membunuh kuman penyakit, tetapi di kesempatan lain justru memperbanyaknya. Tampaknya dampak kekeringan terhadap pola penyakit tidak selalu seragam,” kata Johnson.

Untuk memahami lebih baik bagaimana kekeringan memengaruhi penularan penyakit, Johnson dan rekannya Tara Stewart Merrill dari Cary Institute of Ecosystem Studies menggabungkan hasil dari hampir 100 penelitian terdahulu dan mengidentifikasi cara-cara utama bagaimana penyakit menular merespons kekeringan.

Jalur penyebaran penyakit

Salah satu jalur utamanya adalah ketika kekeringan mengeringkan sungai dan kolam, hewan-hewan terpaksa berkumpul di sisa-sisa kubangan air dan tempat tinggal yang masih ada. Tempat-tempat ini kemudian menjadi titik panas penularan parasit, seperti yang terjadi pada katak di California.

Kekeringan juga bisa membuat parasit dan pembawa penyakit tertentu yang tahan cuaca ekstrem menjadi lebih berkembang. Di Amerika Utara, penyakit dari nyamuk seperti virus West Nile dan virus St. Louis encephalitis (radang otak) makin meluas.

Hal ini salah satunya terjadi karena air yang makin sedikit mengurangi jumlah hewan air seperti jentik capung yang biasa memakan jentik nyamuk. Selain itu, Valley fever (demam lembah) menginfeksi manusia dan hewan melalui debu tercemar yang jumlahnya makin banyak di musim kering.

Baca juga: Peneliti Petakan Titik Rawan Kekeringan Global, Mana Saja yang Berisiko?

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau