KOMPAS.com - Tinjauan terhadap laporan resmi dan rapat perusahaan besar, El Niño dengan cepat menjadi perhatian utama di berbagai sektor industri, seperti makanan, bahan kimia, dan perbankan.
Melansir Edie, Senin (17/8/2026) tinjauan yang menggunakan data dari firma riset pasar AlphaSense ini menunjukkan bahwa 478 perusahaan menyebutkan kata ‘El Niño’ dalam 1.443 dokumen antara 1 Mei hingga 4 Agustus.
Ini adalah jumlah penyebutan fenomena cuaca terbanyak dalam dunia korporasi sejak tahun 2019. Kata ini juga diucapkan lebih dari 300 kali dalam berbagai rekaman rapat perusahaan.
Menurut riset tersebut, perusahaan di sektor makanan dan minuman, bahan kimia, serta perbankan menunjukkan kekhawatiran khusus terhadap potensi dampak El Niño. Mereka berfokus pada seberapa besar tingkat risiko cuaca yang dihadapi serta menyiapkan rencana darurat.
El Niño adalah pola cuaca alami yang terjadi sekitar dua hingga lima tahun sekali, ketika suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur meningkat. Sebaliknya, La Niña adalah pola iklim alami lainnya yang ditandai dengan penurunan suhu rata-rata permukaan air laut.
Baca juga: BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Dampaknya adalah cuaca ekstrem di seluruh dunia, seperti gelombang panas dan kekeringan, serta peningkatan curah hujan, banjir, dan badai. Hal ini makin memperburuk kondisi cuaca ekstrem yang sudah terjadi akibat perubahan iklim.
Fenomena El Niño secara resmi diumumkan pada bulan Juni ini dan para ahli menyebut fenomena yang terjadi tahun ini sebagai ‘super El Niño’.
“Istilah super’ El Niño bukanlah istilah resmi yang kami gunakan, tetapi hal ini menegaskan bahwa fenomena ini kemungkinan besar akan menjadi peristiwa yang berdampak besar. Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa ini bisa menjadi El Niño terkuat di abad ini, setara dengan kejadian El Niño yang sangat besar pada tahun 1998,” kata Grahame Madge, pejabat pers senior dan komunikator sains iklim di Met Office.
Menurut lembaga riset Berkeley Earth, kini ada peluang sebesar 69 persen bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah. Sekitar 8,5 persen dari total luas permukaan Bumi mengalami bulan Juli terpanas yang pernah tercatat, dengan 9,8 persen wilayah lautan dan 6 persen wilayah daratan mencapai rekor suhu tertinggi.
Lebih dari 30 negara juga mencetak rekor suhu terpanas pada bulan Juli akibat gelombang panas yang melanda berbagai wilayah, termasuk Inggris, yang diperkirakan mengalami kerugian sebesar 1,1 miliar pound sterling akibat penurunan produktivitas pada bulan Juni.
Bagi perusahaan-perusahaan di India, El Niño disebutkan dalam hampir 900 dokumen atau sekitar 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan laporan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.
Baca juga: Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Beberapa wilayah di India mengalami suhu ekstrem hingga mencapai 48 derajat C, sementara hujan monsun yang lebat dan tak menentu telah menyebabkan lebih dari 100 kematian sejak akhir Juli.
Menurut rapat laporan keuangan pada akhir Juli, perusahaan tambang asal Peru, Compañía de Minas Buenaventura, menambah anggaran modal sebesar 12 juta dolar AS untuk mengantisipasi risiko El Niño, termasuk menambah kapasitas pompa air guna menangani banjir.
Di sisi lain, beberapa perusahaan justru melihat El Niño dan dampak iklimnya sebagai peluang bisnis.
Perusahaan energi asal AS, AES, melaporkan bahwa kenaikan harga dan penjualan listrik di Kolombia telah mendongkrak pendapatan mereka sebesar 67 juta dolar AS pada kuartal kedua.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya