KOMPAS.com - Hampir separuh anak-anak di dunia kini harus menghadapi beberapa ancaman iklim sekaligus dalam satu waktu.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa perubahan iklim dapat menghancurkan hasil kerja keras puluhan tahun dalam menjaga kesehatan dan keselamatan anak, menurut Laporan Risiko Iklim Anak UNICEF 2026.
Melansir Know ESG, Senin (17/8/2026) laporan tersebut memperkirakan sekitar 1,1 miliar anak terpapar berbagai ancaman lingkungan yang terjadi bersamaan.
Sekitar 1,5 miliar anak menghadapi gelombang panas yang lebih lama atau lebih sering, sementara 1,2 miliar anak terpapar suhu panas ekstrem. Risiko yang makin meningkat ini menekan layanan kesehatan, pendidikan, pasokan makanan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Temuan ini muncul di saat keselamatan anak di dunia menghadapi tantangan baru. Angka kematian anak sebenarnya telah turun drastis selama tiga dekade terakhir, dari sekitar 1 dari 11 anak pada tahun 1990 menjadi 1 dari 27 anak saat ini.
Baca juga: Angka Vaksinasi Naik Tipis, Jutaan Anak Masih Belum Terlindungi
Namun, bencana iklim yang terjadi berulang kali dapat menyulitkan masyarakat yang rentan untuk mempertahankan pencapaian tersebut.
Laporan ini menyoroti bagaimana perubahan iklim kini makin sering menciptakan risiko bertumpuk, bukan lagi sekadar bencana cuaca yang berdiri sendiri.
Anak-anak di beberapa daerah bisa saja menghadapi panas ekstrem bersamaan dengan kekeringan lahan pertanian, badai tropis, dan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui hewan seperti nyamuk.
Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan termasuk wilayah yang paling parah terdampak. Negara-negara seperti Bangladesh dan Pakistan sedang mengalami berbagai tekanan iklim sekaligus yang dapat memperburuk kondisi masyarakat rentan di sana.
Anak-anak menjadi kelompok yang paling berisiko karena tubuh mereka jauh lebih sensitif terhadap suhu ekstrem dan kerusakan lingkungan.
Di sisi lain, bencana kekeringan dapat merusak panen dan memicu krisis pangan, sementara panas dan kekurangan air bersih dapat menyebabkan timbulnya penyakit serta gizi buruk. Selain itu, banjir dan badai dapat merusak fasilitas kesehatan, sekolah, dan infrastruktur warga, sehingga masyarakat makin kekurangan sumber daya untuk bertahan hidup.
Meskipun tantangannya sangat besar, banyak alat yang dibutuhkan untuk melindungi anak-anak yang rentan sebenarnya sudah tersedia. Alat-alat ini mencakup sistem peringatan dini untuk banjir dan kekeringan, model pemantau penyebaran penyakit, serta teknologi pemantau lingkungan yang terjangkau.
Masalah utamanya adalah mengubah solusi ini dari sekadar proyek lokal kecil menjadi program berskala besar.
Dana iklim dunia memang telah meningkat hingga hampir 1,5 triliun dolar AS, tetapi negara-negara dengan risiko tertinggi terus menerima bagian yang sangat kecil. Negara-negara termiskin hanya menerima sekitar 2 persen dari total modal iklim dunia, menurut laporan tersebut.
Baca juga: Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pendanaan campuran bisa membantu menutup kekurangan ini dengan memakai dana pemerintah untuk mengurangi risiko investasi, sehingga modal dari sektor swasta mau masuk. Sayangnya, skema pendanaan seperti ini baru mencakup sekitar 4 persen dari komitmen dana iklim yang ada.
Oleh karena itu, untuk memperluas adaptasi iklim, cara penyaluran dana pembangunan harus diubah.
Investasi yang lebih besar pada sistem air yang tahan bencana, fasilitas kesehatan, alat pemantau cuaca, dan kesiapsiagaan bencana dapat membantu masyarakat melindungi anak-anak sebelum krisis iklim berubah menjadi bencana kemanusiaan yang parah.
Temuan UNICEF ini menegaskan bahwa perubahan iklim juga merupakan masalah hak-hak anak. Untuk melindungi generasi mendatang, dunia tidak boleh hanya mengandalkan bantuan darurat jangka pendek saat bencana terjadi, melainkan harus mengalirkan lebih banyak dana untuk ketahanan jangka panjang di wilayah tempat anak-anak menghadapi risiko paling besar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya