SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Suara mesin terdengar dari area perkebunan PT Kencana Sawit Indonesia (KSI, Wilmar Group) di Solok Selatan. Di antara barisan tanaman kelapa sawit, Yulianti Novera mengendarai mini-traktor (ginga) yang menjadi bagian dari pekerjaannya sehari-hari.
Mengoperasikan alat di tengah perkebunan mungkin bukan pekerjaan yang selama ini identik dengan perempuan. Namun bagi Yulianti, pekerjaan di lapangan tidak semestinya dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Selama memahami pekerjaan dan mampu menjalankan tanggung jawab, perempuan pun dapat mengambil bagian dalam aktivitas operasional di perkebunan.
Pengalaman serupa dijalani Yusmi. Bedanya, perempuan berusia 50 tahun itu tidak berada di balik kemudi mini-traktor. Ia bertugas sebagai aplikator pupuk dan pembasmi hama, pekerjaan yang telah dijalaninya selama 14 tahun.
Baca juga: Warga dan Hutan Konservasi, Menjaga Ruang Hidup di Solok Selatan
Keduanya menjalani pekerjaan yang berbeda, tetapi sama-sama bersentuhan langsung dengan aktivitas perkebunan.
Bekerja sebagai operator mini-traktor menjadi pengalaman baru bagi Yulianti. Saat perusahaan membutuhkan operator perempuan, ia melihat kesempatan tersebut sebagai tantangan yang layak dicoba.
"Kami mencoba yang belum ada dan ternyata sanggup," ujar Yulianti kepada rekan-rekan media yang mendampinginya.
Yulianti sebelumnya belum pernah mengoperasikan mini-traktor. Ia belajar bersama operator lama, mulai dari medan datar sebelum akhirnya dipercaya mengoperasikan alat tersebut secara mandiri setelah menjalani proses pelatihan sekitar satu minggu.
Yulianti sedang mengoperasikan mini-traktor untuk kebutuhan pengaplikasian pembasmi tanaman liar di sekitar kawasan perkebunan PT KSI pada Kamis (10/9/2026).Tantangan terbesar justru datang dari medan perkebunan. Jalan menanjak, turunan, hingga terasan yang sempit membuat Yulianti harus lebih berhati-hati saat mengendalikan mini-traktor.
"Kalau yang menantang itu di terasan. Kadang sempit, jadi payah mengendalikan ginga di situ," katanya.
Meski pekerjaan tersebut sebelumnya lebih banyak dilakukan laki-laki, Yulianti mengatakan dirinya tidak menghadapi kendala khusus karena faktor gender. Rekan kerjanya pun sempat terkejut melihat perempuan mengoperasikan alat tersebut.
"Agak wow lah, karena perempuan belum ada yang bawa ini. Baru kami yang coba," ujar Yulianti.
Di sisi lain, Yusmi sudah jauh lebih lama terbiasa dengan pekerjaan lapangan. Selama 14 tahun, perempuan berusia 50 tahun itu menjalankan tugas sebagai aplikator pupuk dan pembasmi hama, termasuk melakukan aplikasi pada area piringan tanaman.
Baca juga: Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan
Dalam sehari, Yusmi dapat menangani sekitar 13 hingga 14 hektare lahan. Ia mengatakan kondisi fisiknya tidak menjadi kendala karena sudah terbiasa menjalani pekerjaan tersebut.
"Mungkin sudah biasa jadi masih kuat," kata Yusmi ketika ditanya apakah tubuhnya masih kuat menjalani pekerjaan tersebut.
Bagi Yusmi, pekerjaan itu bukan sekadar aktivitas sehari-hari. Penghasilan yang diperoleh selama bertahun-tahun turut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya