Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
CERITA LESTARI

Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan

Kompas.com, 16 September 2026, 17:25 WIB
Muhammad Rizqan Alfarisi,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Suara siamang sesekali terdengar dari kawasan perbukitan saat Kompas.com mengunjungi perkebunan PT Kencana Sawit Indonesia (KSI, Wilmar Group), Solok Selatan, Sumatera Barat, Rabu (9/9/2026).

Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit, suara itu menjadi penanda bahwa kawasan hutan di sekitar perkebunan maish menjadi rumah bagi satwa liar.

Siamang merupakan salah satu satwa yang menghuni kawasan bernilai konservasi tinggi (high conservation value/HCV) milik PT KSI. Kawasan tersebut memiliki luas 1.760,25 hektare dan menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna, termasuk siamang yang telah dilepasliarkan sejak 2014.

Menjaga kawasan itu rupanya bukan hanya menjadi pekerjaan tim konservasi perusahaan. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan juga dilibatkan untuk ikut memantau dan menjaga hutan

General Estate Manager PT KSI Hari Purnama mengatakan, perusahaan mempekerjakan warga sekitar penjaga kawasan konservasi. Mereka menjaga dan memantau kawasan.

"Untuk konservasi, ada masyarakat yang kami pekerjakan sebagai penjaga. Ada dari Desa Sungai Kunyit lima orang, (lalu) dari Talao lima orang," ujar Hari saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu.

Menurut dia, masyarakat juga membantu mengawasi kawasan dari aktivitas yang dapat mengganggu kelestarian hutan, seperti pembakaran, pembukaan lahan, penebangan pohon, hingga aktivitas yang dapat mencemari sungai.

Menjaga habitat siamang dan satwa liar lain

Kawasan HCV PT KSI tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya Bukit Tengah Pulau dan Bukit Salo. Area tersebut menjadi bagian dari habitat satwa yang dipantau secara rutin oleh tim konservasi.

HCV Officer Sumatera Barat PT KSI Ityasman menjelaskan bahwa kawasan Bukit Tengah Pulau memiliki luas sekitar 300 hektare, sedangkan Bukit Salo sekitar 430 hektare sebagai area konservasi.

Seekor lutung tampak waspada ketika menyadari keberadaan anggota HCV yang sedang berpatroli di sekitar kawasan hutan lindung milik PT Kencana Sawit Indonesia.Dok. PT Kencana Sawit Indonesia Seekor lutung tampak waspada ketika menyadari keberadaan anggota HCV yang sedang berpatroli di sekitar kawasan hutan lindung milik PT Kencana Sawit Indonesia.

Di dua kawasan itulah siamang yang dilepasliarkan perusahaan kemudian berkembang biak.

"Sejak 2014, sebanyak 25 ekor siamang kami lepasliarkan di kawasan Bukit Salo dan Bukit Tengah Pulau. Sekarang mereka sudah bisa hidup mandiri dan sudah berkembang biak," ujar Ityasman.

Menurut dia, sebelum pelepasliaran dilakukan, siamang liar belum terlihat di sekitar kawasan konservasi tersebut. Setelah dilepasliarkan, satwa itu memiliki wilayah jelajah yang cukup luas sehingga keberadaannya tidak selalu mudah ditemukan saat pemantauan.

Untuk mengetahui kondisi dan keberadaan satwa, tim konservasi yang berjumlah sekitar 12 orang melakukan pemantauan di lapangan. Mereka menyusuri jalur patroli, mencatat koordinat lokasi perjumpaan, mengamati satwa, serta mendokumentasikan temuan.

Tangkapan layar dari rekaman camera trap milik HCV PT Kencana Sawit Indonesia menunjukkan seekor tapir hidup di area konservasi. Tapir adalah hewan dilindungi yang statusnya terancam punah dan kini dilindungi oleh negara.Dok. PT Kencana Sawit Indonesia Tangkapan layar dari rekaman camera trap milik HCV PT Kencana Sawit Indonesia menunjukkan seekor tapir hidup di area konservasi. Tapir adalah hewan dilindungi yang statusnya terancam punah dan kini dilindungi oleh negara.

Tak semua satwa mudah ditemukan secara langsung. Untuk itu, satwa yang sulit ditemui secara langsung, tim juga menggunakan camera trap. Perangkat tersebut membantu merekam keberadaan satwa yang melintas di kawasan hutan.

Dari hasil pemantauan, kawasan HCV PT KSI menjadi habitat bagi sejumlah mamalia, seperti tapir, beruang madu, kijang, rusa, landak, kambing hutan, hingga ajak atau anjing hutan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan
Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan
Swasta
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
Dari Keterampilan Menjadi Peluang, Begini Cara Bakti BCA Memberdayakan Talenta dan Komunitas
BrandzView
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Nusa Pulih 2026, Dukung Pemulihan Kesehatan Pascagempa Flores
Swasta
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
Satwa Liar Terjepit Erupsi Gunung, Ancaman Kepunahan dan Risiko Berkonflik dengan Manusia
LSM/Figur
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
Air Hujan Pasca Erupsi Gunung Berapi, Pakar IPB Ingatkan Jernih Belum Tentu Aman
LSM/Figur
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Peta Global Ungkap Dari Mana Asal Emisi Petrokimia Terbesar Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Perdagangan Global Menyumbang 35 Persen Emisi Karbon UE pada 2023
Pemerintah
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Belajar dari Prai Ijing, Kala Keterlibatan Komunitas Jadi Kunci Berdayanya Desa Wisata
Swasta
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau