KOMPAS.com - Di saat sebagian besar warga Desa Buhut Jaya, Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas, terlelap dalam istirahat, Andika masih terjaga di sudut kandang sederhana yang terletak di tengah hutan tropis, Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas.
Mengandalkan ayunan sebagai tempat beristirahat di dekat kandang, pemuda berusia 22 tahun ini setia memantau kondisi ratusan ayam petelurnya.
Menjaga sendiri hingga larut malam adalah rutinitas yang dijalaninya demi memastikan hewan ternaknya aman, termasuk dari gangguan burung punai yang kerap mengincar pakannya.
Baca juga: PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Andika, anak yang memiliki keterbatasan pendengaran, mulai merintis usaha peternakan ayam petelur di tengah hutan tropis sejak Februari 2024 lalu, tak lama usai dari lulus SMK Maharati.
"Untuk membikin kandang ayam, itu keinginan Andika sendiri dan dibantu ibunya. Iya, karena dari awal sudah dikasih tahu, itu harus ada pembimbingnya. Nah, ini kan termasuk dari SMK itu. Cuma ya inilah anak saya, ini kekurangannya nih (seorang penyandang disabilitas), tetapi dia rajin," ujar ayah Andika, Adiria Santoso di Desa Buhut Jaya, Kamis (2/10/2025).
Ketertarikannya pada dunia peternakan tumbuh sejalan dengan arah pembinaan di sekolah. Berbekal modal awal melalui program corporate social responsibility (CSR) dari PAMA Group, Andika mendirikan kandang di atas lahan seluas seperempat hektar milik sang ayah, Adiria Santoso.
Di awal membangun bisnisnya, sebagian dari 500 ekor ayam petelur yang didatangkan dari luar Kabupaten Kapuas, mati setibanya di peternakan Andika.
Adiria menduga penyebabnya karena 'kelelahan' menempuh perjalanan panjang dan medan yang berat, dengan diperparah kemacetan maupun kendala saat menyeberang menggunakan feri.
Usaha Andika menunjukkan progres positif, meski diterpa masalah keterbatasan pasokan pakan, yang disiasati dengan mencampurkannya bersama dedak. Produksi telur yang mulanya hanya berkisar 150 butir atau 5 rak per hari, saat itu telah meningkat secara bertahap hingga mencapai 360 butir atau 12 rak per hari.
Baca juga: UNTR Targetkan Tambang Emas Doup Mulai Produksi 2029
Untuk pemasaran, mayoritas telur disuplai ke koperasi di bawah naungan PAMA Group. Sedangkan, sebagian lainnya dijual langsung kepada tetangga sekitar dengan harga terjangkau.
Pengaturan distribusi ini dilakukan agar hasil penjualan dapat menutupi biaya operasional, tak terkecuali pembelian pakan berikutnya.
Andika sebenarnya pernah putus sekolah selama dua tahun. Namun, setelah pembangunan SMK Maharati yang dikelola Yayasan Bina Harati Pama di bawah Pama Group, anak usaha dari PT United Tractors Tbk (UNTR), selesai, Andika akhirnya kembali melanjutkan sekolahnya.
"Untungnya, umurnya masih bisa untuk melanjutkan sekolah karena dia kan lahirnya 2004, dan Andika ini (memang) diutamakan," tutur Adiria.
Kepala Sekolah SMK Maharati, Aris Dianto mengatakan, tempat tinggal Andika berada di Desa Ring 1 yang berbatasan langsung dengan area operasional pertambangan perusahaan.
Sebagai prioritas utama, SMK Maharati menuntut para guru untuk menyampaikan materi pembelajaran secara lebih inklusif agar Andika dapat ikut memahaminya.
SMK dengan jurusan teknik alat berat (TAB) dan desain komunikasi visual (DKV) ini memang bukanlah sekolah inklusi yang memperoleh bantuan guru khusus dari pemerintah.
Kendati demikian, para guru diwajibkan memahami karakteristik dan keunggulan maupun kelemahan murid. Untuk murid dengan kebutuhan khusus, penanganannya akan dibantu guru bimbingan konseling (BK) dan pembina asrama berlatar belakang psikologi.
Dengan pendampingan ekstra dari guru, kata dia, Andika bisa menghasilkan proyek DKV dan lulus uji kompetensi. Tetapi, saat profilling penentuan peminatan, Andika memilih untuk berwirausaha.
"Kami sangat mendukung Andika agar termotivasi, walaupun wirausaha, itu (tetap) bisa sukses," ujar Aris, Rabu (1/10/2025).
UNTR mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis melalui pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada lima pilar utama. Yaitu, pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan ekonomi, dan penanggulangan bencana.
Dalam bidang pendidikan melalui program UT Future, perseroan membina sebanyak 2.165 sekolah dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi dan menyalurkan beasiswa kepada 464 penerima manfaat.
Baca juga: Tak Tinggalkan Batu Bara, United Tractors (UNTR) Siapkan Bisnis Masa Depan
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya