SOLOK SELATAN, KOMPAS.com – Suara mesin ekskavator menjadi bagian dari keseharian Wahidah Nurhayati (25) di area perkebunan PT Kencana Sawit Indonesia (KSI, Wilmar Group), Solok Selatan, Sumatera Barat.
Di balik kendali alat berat itu, Wahidah menjalani pekerjaan yang sebelumnya belum pernah ia lakukan. Perempuan asal Pariaman, Sumatera Barat, itu sebelumnya bertugas di bagian maintenance mower atau perawatan mesin pemotong rumput di PT KSI.
Kesempatan untuk beralih menjadi operator alat berat kemudian datang. Bagi Wahidah, kesempatan tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus ruang untuk mempelajari bidang teknis yang sejak awal menarik perhatiannya.
Baca juga: Warga dan Hutan Konservasi, Menjaga Ruang Hidup di Solok Selatan
"Saya berterima kasih karena diberikan kesempatan ini," ujar Wahidah kepada Kompas.com pada Minggu (13/9/2026).
Ketertarikan itu juga sejalan dengan hobinya beraktivitas di luar ruangan. Lulusan SMK Taruna Padang tersebut diketahui gemar offroad dan jelajah alam, sehingga aktivitas yang banyak dilakukan di lapangan terasa dekat dengan kesehariannya.
Kini, sekitar dua tahun setelah mulai menjalani pekerjaan sebagai operator alat berat, Wahidah menangani sejumlah pekerjaan di area perkebunan. Tugasnya antara lain membuat parit, mengangkut sawit, membersihkan dahan, serta melakukan stacking.
Pekerjaan tersebut menuntut kemampuan untuk mengoperasikan alat berat sekaligus memahami kondisi area kerja. Bagi Wahidah, pengalaman di lapangan menjadi bagian dari proses untuk menambah pengalaman dan kemampuan teknis.
Salah satu dokumentasi saat Wahidah mengoperasikan excavator di area perkebunan milik PT KSI.Perjalanan Wahidah menjadi operator ekskavator tidak berlangsung dalam satu langkah. Sebelumnya, ia lebih dulu bekerja di bagian maintenance mower, menangani perawatan mesin pemotong rumput.
Dari pekerjaan tersebut, ia kemudian mendapat kesempatan untuk mencoba bidang yang berbeda. Ketika kesempatan menjadi operator alat berat terbuka, ia memilih mencobanya.
Baca juga: Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Keputusan itu juga didorong rasa ingin tahunya terhadap alat berat. Pekerjaan yang sebelumnya hanya ia lihat dari sisi perawatan kini harus dipahami dari balik kendali alat.
Lingkungan kerja di area perkebunan yang banyak diisi pekerja laki-laki juga tidak membuat Wahidah merasa khawatir. Ia mengatakan, dirinya merasa aman selama bekerja di lapangan karena terdapat aturan perusahaan yang memberikan perlindungan bagi pekerja perempuan.
Wahidah mengatakan bahwa menjadi operator ekskavator menjadi batu loncatan karier baginya yang ingin menjadi seorang manajer di masa yang akan datang."Saya merasa aman selama bekerja di lapangan karena terdapat aturan perusahaan yang memberikan perlindungan bagi pekerja perempuan," kata Wahidah.
Rasa aman tersebut, menurut Wahidah, turut membuatnya dapat menjalankan pekerjaan di lapangan dengan nyaman. Dukungan terhadap pekerja perempuan juga hadir melalui Women of Working (WoW) dan Rumah Perlindungan Pekerja, Perempuan, dan Anak (RP3A) di lingkungan PT KSI.
Ketua Komite WoW Herni Zen atau yang akrab disapa Eni mengatakan, keberadaan WoW dan RP3 merupakan bagian dari dukungan terhadap pekerja perempuan, termasuk dalam hal perlindungan dan kesetaraan di lingkungan kerja.
Baca juga: Cerita Satwa Liar yang Menemukan Ruang Hidup di Hutan Konservasi Solok Selatan
"Tujuan rumah RP3 ini diadakan adalah untuk memberikan perlindungan bagi pekerja perempuan bahwa dia bekerja tidak tertekan, tidak kena ancaman, KDRT, tidak ada diskriminasi. Jadi kalau mereka ada masalah, mereka sudah berani menyuarakan." ujar Eni saat berbincang dengan Kompas.com dan awak media yang hadir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya