KOMPAS.com - Seiring perubahan iklim yang membuat kebakaran hutan semakin sering dan parah, para peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai menerbitkan dua studi berskala besar.
Hasilnya menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan mungkin memicu risiko kesehatan yang lebih besar daripada polusi udara jenis lain.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Min Zhang sebagai penulis utama dan Dr. Yaguang Wei sebagai penulis senior. Keduanya memberikan salah satu bukti terkuat sejauh ini bahwa asal-usul polusi udara itu penting, bukan sekadar jumlahnya.
Melansir Medical Xpress, Kamis (17/9/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications dan The Lancet Oncology, ini meneliti dampak kesehatan jangka panjang dari partikel halus akibat kebakaran hutan yang dikenal sebagai PM2.5.
Partikel ini berupa campuran debu mikroskopis di udara yang bisa masuk sangat dalam ke paru-paru hingga mengalir ke dalam aliran darah.
Melalui kedua penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa PM2.5 yang berasal dari kebakaran hutan menimbulkan risiko kesehatan yang lebih tinggi per tingkat paparan, jika dibandingkan dengan PM2.5 dari sumber non-kebakaran.
Temuan ini muncul seiring asap kebakaran hutan yang semakin sering berdampak pada wilayah-wilayah yang jauh dari daerah rawan kebakaran tradisional.
Baca juga: Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
"Penelitian kami menunjukkan bahwa PM2.5 dari kebakaran hutan tampaknya jauh lebih berbahaya daripada tingkat polusi yang setara dari sumber lain. Seiring meningkatnya aktivitas kebakaran hutan, kebijakan kesehatan masyarakat dan lingkungan harus memperhitungkan jumlah sekaligus asal dari polusi udara tersebut," ujar Wei.
Studi pertama, yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Oncology, meneliti apakah paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dari kebakaran hutan memengaruhi tingkat kelangsungan hidup pasien kanker paru-paru.
Para peneliti menganalisis data dari 414.016 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas yang menderita kanker paru-paru di dalam basis data SEER-Medicare.
Mereka memperkirakan paparan PM2.5 dari kebakaran hutan dan non-kebakaran berdasarkan tempat tinggal pasien. Perhitungan ini menggunakan perkiraan total PM2.5 di udara bebas yang dikembangkan secara mandiri, serta perkiraan PM2.5 khusus kebakaran hutan yang diterbitkan oleh para peneliti dari Universitas Stanford.
Studi tersebut menemukan bahwa PM2.5, baik yang berasal dari kebakaran hutan maupun sumber lain, sama-sama meningkatkan risiko kematian pada pasien setelah didiagnosis menderita kanker paru-paru.
Namun, ketika para peneliti membandingkan tingkat paparan yang setara, PM2.5 akibat kebakaran hutan terbukti jauh lebih beracun. Meskipun PM2.5 dari kebakaran hutan hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total keseluruhan PM2.5, partikel ini justru memicu sekitar 17 persen dari total kematian yang berkaitan dengan paparan PM2.5 secara keseluruhan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan jangka panjang terhadap asap kebakaran hutan bisa menjadi faktor risiko yang penting bagi pasien kanker paru-paru.
Di antara para peserta penelitian, para ahli memperkirakan bahwa ratusan kematian setiap tahunnya disebabkan oleh paparan PM2.5 dari kebakaran hutan. Mereka juga mendapati bahwa jumlah hari berasap yang lebih banyak serta durasi paparan asap yang lebih panjang berkaitan dengan peluang kelangsungan hidup yang lebih rendah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya