Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya

Kompas.com, 21 September 2026, 10:18 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Seiring perubahan iklim yang membuat kebakaran hutan semakin sering dan parah, para peneliti dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai menerbitkan dua studi berskala besar.

Hasilnya menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan mungkin memicu risiko kesehatan yang lebih besar daripada polusi udara jenis lain.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Min Zhang sebagai penulis utama dan Dr. Yaguang Wei sebagai penulis senior. Keduanya memberikan salah satu bukti terkuat sejauh ini bahwa asal-usul polusi udara itu penting, bukan sekadar jumlahnya.

Melansir Medical Xpress, Kamis (17/9/2026) studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications dan The Lancet Oncology, ini meneliti dampak kesehatan jangka panjang dari partikel halus akibat kebakaran hutan yang dikenal sebagai PM2.5.

Partikel ini berupa campuran debu mikroskopis di udara yang bisa masuk sangat dalam ke paru-paru hingga mengalir ke dalam aliran darah.

Melalui kedua penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa PM2.5 yang berasal dari kebakaran hutan menimbulkan risiko kesehatan yang lebih tinggi per tingkat paparan, jika dibandingkan dengan PM2.5 dari sumber non-kebakaran.

Temuan ini muncul seiring asap kebakaran hutan yang semakin sering berdampak pada wilayah-wilayah yang jauh dari daerah rawan kebakaran tradisional.

Baca juga: Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan

"Penelitian kami menunjukkan bahwa PM2.5 dari kebakaran hutan tampaknya jauh lebih berbahaya daripada tingkat polusi yang setara dari sumber lain. Seiring meningkatnya aktivitas kebakaran hutan, kebijakan kesehatan masyarakat dan lingkungan harus memperhitungkan jumlah sekaligus asal dari polusi udara tersebut," ujar Wei.

Kelangsungan hidup pasien kanker paru-paru

Studi pertama, yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Oncology, meneliti apakah paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dari kebakaran hutan memengaruhi tingkat kelangsungan hidup pasien kanker paru-paru.

Para peneliti menganalisis data dari 414.016 orang dewasa berusia 65 tahun ke atas yang menderita kanker paru-paru di dalam basis data SEER-Medicare.

Mereka memperkirakan paparan PM2.5 dari kebakaran hutan dan non-kebakaran berdasarkan tempat tinggal pasien. Perhitungan ini menggunakan perkiraan total PM2.5 di udara bebas yang dikembangkan secara mandiri, serta perkiraan PM2.5 khusus kebakaran hutan yang diterbitkan oleh para peneliti dari Universitas Stanford.

Studi tersebut menemukan bahwa PM2.5, baik yang berasal dari kebakaran hutan maupun sumber lain, sama-sama meningkatkan risiko kematian pada pasien setelah didiagnosis menderita kanker paru-paru.

Namun, ketika para peneliti membandingkan tingkat paparan yang setara, PM2.5 akibat kebakaran hutan terbukti jauh lebih beracun. Meskipun PM2.5 dari kebakaran hutan hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total keseluruhan PM2.5, partikel ini justru memicu sekitar 17 persen dari total kematian yang berkaitan dengan paparan PM2.5 secara keseluruhan.

Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan jangka panjang terhadap asap kebakaran hutan bisa menjadi faktor risiko yang penting bagi pasien kanker paru-paru.

Di antara para peserta penelitian, para ahli memperkirakan bahwa ratusan kematian setiap tahunnya disebabkan oleh paparan PM2.5 dari kebakaran hutan. Mereka juga mendapati bahwa jumlah hari berasap yang lebih banyak serta durasi paparan asap yang lebih panjang berkaitan dengan peluang kelangsungan hidup yang lebih rendah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau